Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Nasib Wong Cilik: Hidup Makan Tabungan, Saldo Rekening Menyusut, Orang Kaya Borong Dolar
Bagikan:
Penulis: Agung Riyadi
Ringkasan Berita
Fenomena "makan tabungan" semakin meluas di kalangan masyarakat menengah ke bawah di Indonesia, di mana rata-rata saldo rekening mereka menurun drastis dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta per Mei 2026, akibat tergerusnya daya beli dan peningkatan kebutuhan hidup. Sementara itu, kelompok kaya justru mengalami peningkatan simpanan, terutama dalam valuta asing, dengan jumlah rekening dolar AS melonjak 185,5 persen secara tahunan, sebagai langkah perlindungan terhadap nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Meskipun demikian, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) membantah fenomena "makan tabungan" dengan menyatakan bahwa simpanan di bawah Rp100 juta sebenarnya mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 5,16 persen.
Masyarakat menarik tabungan via ATM (ANTARA)
Sentimen Berita
50% sumber condong ke kiri
Kiri50%
Netral50%
Kanan0%
JAKARTA, AFU.ID - Fenomena "makan tabungan" atau mantab kian nyata dirasakan oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah di Indonesia. Daya beli yang tergerus kebutuhan hidup membuat akumulasi simpanan warga berpenghasilan rendah terus mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan riset terbaru dari Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), rata-rata saldo rekening masyarakat yang memiliki simpanan di bawah Rp100 juta tercatat hanya tersisa Rp1,7 juta per Mei 2026. Jika menilik ke belakang, angka ini mencatatkan penurunan yang sangat tajam.
Pada tahun 2018, rata-rata saldo rekening di segmen ini masih berada di kisaran Rp3,1 juta. Nilai tersebut kemudian merosot menjadi Rp1,8 juta pada 2024, hingga akhirnya kembali menyusut ke angka Rp1,7 juta di pertengahan tahun ini.
Chief Economist Perbanas Winang Budoyo menjelaskan, meskipun secara keseluruhan total dana simpanan pada kelompok di bawah Rp100 juta masih mencatatkan pertumbuhan karena bertambahnya jumlah rekening, nilai rata-rata yang tersimpan di setiap rekening nasabah justru terus tergerus. Kondisi ini mengindikasikan bahwa laju pengeluaran dan kebutuhan hidup masyarakat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan mereka untuk mengumpulkan dana simpanan.
"Artinya lebih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi tabungan. Di situlah muncul fenomena yang kami sebut sebagai 'makan tabungan'," ujar Winang beberapa waktu lalu.
Fenomena ini sangat kontras dengan nasabah jumbo alias orang-orang kaya. Saldo para nasabah bermodal besar dengan simpanan di atas Rp10 miliar, justru tercatat terus mengalami peningkatan, terutama pada rekening berdenominasi valuta asing (valas). Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026 mencatat lompatan drastis pada kepemilikan rekening valas.
Jumlah rekening dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) melonjak hingga 185,5 persen secara tahunan (year on year/YoY). Secara nominal, total simpanan valas di perbankan nasional mencapai Rp1.741,46 triliun, atau tumbuh 19,5 persen (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Winang, fenomena melesatnya simpanan dolar di kelompok kaya ini dipicu oleh strategi pemilik modal untuk melindungi nilai aset (hedging) di tengah ketidakpastian dan pelemahan nilai tukar rupiah. "Karena rupiah melemah, masyarakat mencari rasa aman dengan menyimpan uangnya dalam bentuk dolar," ungkap Winang.
Meski demikian, Winang menilai pergeseran simpanan dari rupiah ke mata uang asing ini tidak serta-merta mengganggu atau mengubah perputaran dana secara fundamental di sektor perbankan. "Dari sisi perputaran uang sebenarnya tetap sama. Hanya saja, dana tersebut dikonversi dari rupiah ke dolar untuk menjaga keamanan nilai uang mereka," pungkasnya.
OJK Bantah Fenomena Mantab
Tudingan mengenai masyarakat kelas menengah ke bawah yang marak "makan tabungan" ditampik keras oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS memastikan bahwa simpanan warga di bawah Rp100 juta justru masih mencatatkan tren pertumbuhan.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyampaikan bahwa per Juni 2026, simpanan perorangan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan (year on year). "Kalau secara agregat, yang di bawah Rp100 juta itu tumbuh 5,16 persen secara tahunan," ujar Anggito pada konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (3/8/2026).
Anggito menegaskan, data milik LPS tidak mengindikasikan adanya penurunan tabungan secara menyeluruh. Kenaikan tersebut bahkan juga terjadi pada kelompok simpanan dengan nominal yang lebih kecil. Secara rinci, simpanan dengan saldo di bawah Rp5 juta tumbuh 7,36 persen (YoY), sedangkan segmen simpanan Rp5 juta hingga Rp10 juta mengalami kenaikan 10,01 persen. "Tidak perlu melihat terlalu jauh ke belakang. Yang di bawah Rp5 juta itu tumbuh 7,36 persen, dan tren peningkatan ini terjadi di seluruh segmen," jelasnya.
LPS memantau pergerakan dana simpanan ini secara terintegrasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menggunakan basis data seluruh rekening perbankan yang dijamin oleh LPS. Atas dasar itu, Anggito menilai data LPS jauh lebih akurat dalam menggambarkan kondisi agregat simpanan masyarakat ketimbang kesimpulan yang menyebut masyarakat tengah menguras tabungannya.
Terkait temuan Mandiri Saving Index yang menunjukkan adanya kontraksi pada simpanan masyarakat, Anggito memberikan tanggapan bahwa riset tersebut menggunakan metode serta basis perhitungan yang berbeda, sehingga tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan data resmi LPS. "Kami sudah mempelajari kajian Mandiri Saving Index tersebut. Perhitungannya menggunakan acuan data Januari 2022 untuk kondisi saat ini, sehingga berbeda dengan perkembangan tabungan riil yang kami paparkan," pungkas Anggito.