Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Indonesia Sulit Lewati Middle Income Trap, Diplomasi Perdagangan Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Indonesia menghadapi tantangan untuk keluar dari "middle income trap" dan mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, yang memerlukan penguatan investasi, perluasan akses perdagangan, serta sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi dalam mempercepat Program Strategis Nasional dan menghadapi tantangan ekonomi global. Kadin juga meluncurkan inisiatif diplomasi ekonomi dan platform "We Buy From Indonesia" untuk meningkatkan ekspor dan daya saing produk nasional di pasar internasional.
Ketum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menyampaikan laporan kepada Presiden RI, yakni Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026). (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)
JAKARTA, AFU.ID —Middle income trap menjadi tantangan yang Indonesia harus atasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 mendatang. Target itu membutuhkan percepatan berbagai Program Strategis Nasional (PSN), penguatan investasi, dan perluasan akses perdagangan agar perekonomian mampu naik kelas menuju negara berpendapatan tinggi. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha pun menjadi faktor penting untuk menjaga momentum transformasi ekonomi nasional.
Middle income trap alias perangkap pendapatan menengah adalah kondisi ekonomi suatu negara berhasil keluar dari status berpendapatan rendah, namun tertahan dan tak mampu naik kelas menjadi negara maju berpendapatan tinggi. Problem itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dengan jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pusat dan daerah serta pimpinan asosiasi dunia usaha. Forum yang membahas penguatan kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas nasional itu berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Ketua Umum (Ketum) Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menyatakan dunia usaha memilih tetap optimistis menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik global. Pihaknya bahkan berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah melalui penguatan ketahanan pangan, energi, dan ekonomi. “Kita sejak tahun lalu telah bersiap, memilih untuk terus berpikir optimis, dan selalu mencari solusi,” ungkapnya.
Anindya Novyan Bakrie lantas melaporkan pelaksanaan empat program prioritas untuk mendukung agenda Pemerintah RI. Keempatnya adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) Gotong Royong, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Peningkatan Kompetensi Pekerja Migran Indonesia (PMI), dan Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kadin juga berkontribusi pada 866 dapur MBG, termasuk 128 dapur di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta menyiapkan sertifikasi bagi 208 ribu PMI.
Diplomasi Ekonomi Percepat Target Keluar dari Middle Income Trap
Lebih lanjut, Anindya Novyan Bakrie menilai middle income trap dapat dihadapi melalui penguatan diplomasi ekonomi untuk memperluas investasi dan pasar ekspor Indonesia. Oleh karenanya, Kadin membentuk Kadin Global Engagement Office sebagai wadah mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan dan kemitraan ekonomi. Harapannya, dapat menghubungkan peluang investasi, perdagangan, dan industrialisasi global dengan para pelaku usaha nasional.
Kadin juga memperkenalkan platform teknologi dan perdagangan bertajuk We Buy From Indonesia yang menampilkan produk nasional dalam rantai pasok global. Inisiatif itu bertujuan untuk meningkatkan pembelian produk Indonesia dan memperluas pasar ekspor. Termasuk memperkuat kapasitas industri nasional agar semakin lebih kompetitif di tingkat internasional.
“Ekonomi Indonesia sudah tumbuh sebesar 5 persen selama 20 tahun. Tapi untuk bisa naik kelas melewati middle income trap, mesti bertahap menuju 8 persen. Kita melihat, apabila bekerja sama, ini suatu hal yang mungkin sekali dilakukan,” tutur Anindya Novyan Bakrie.
Penguatan PSN yang berjalan secara berdampingan dengan diplomasi ekonomi menunjukkan percepatan pertumbuhan tak cukup hanya mengandalkan belanja pemerintah. Keberhasilan untuk keluar dari middle income trap akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi. Sehingga, mampu memperluas investasi, meningkatkan daya saing industri, dan membuka pasar baru bagi produk Indonesia. (ADR)