JAKARTA - AFU.ID, Sejak saham Barito Renewable Energy/BREN dan Chandra Asri/TPIA melonjak di IHSG pada pertengahan 2024 lalu, kekayaan Prajogo Pangestu melesat ke angkasa. Namanya nangkring di urutan pertama orang terkaya di Indonesia.
Nama-nama konglomerat besar seperti Hartono bersaudara, Low Tuck Kwong atau Sutanto Tanoko, berada di bawahnya. Puncaknya, pada pertengahan 2025, kekayaannya sempat menembus $42–46 miliar. Ini naik $20 miliar dalam waktu singkat.
Tetapi, arus pasar berubah. Di 2026, nama itu turun tahta, diduga karena pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital Investment (MSCI) pada 12 Mei, yang mendepak 3 perusahaannya dari daftar Global Standard Indexes.
Rebalancing MSCI itu mengeluarkan enam emiten saham Indonesia dari Global Standard Indexes karena dinilai tak memenuhi syarat. Tiga di antaranya, saham milik Prajogo, yaitu BREN, TPIA, dan CUAN.
Berdasarkan data terbaru dari Bloomberg Billionaires Index per Mei 2026, posisi puncak kini resmi diambil alih oleh Sukanto Tanoto, pemilik grup Royal Golden Eagle (RGE), dengan nilai kekayaan sekitar US$24,0 miliar.
Memasuki pertengahan Mei 2026, total kekayaan bersihnya tercatat menyusut drastis sekitar 54% sejak awal tahun menjadi US$21,3 miliar dari US$24,9 miliar.
Saat ini, sisa kekayaan Prajogo terdiri dari uang Tunai senilai US$2,78 miliar, aset saham kepemilikan di sejumlah emiten utama dia. Anjloknya kekayaan Prajogo Pangestu berbanding lurus dengan ambruknya harga saham empat emiten andalannya sejak awal tahun 2026.
Mengutip IDNFinancials, terjadi penurunan harga signifikan pada empat saham milik Prajogo Pangestu, meski sebagian tetap mencatat keuntungan dalam setahun terakhir:
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 34,8% sejak awal 2026 namun dalam setahun terakhir naik 141,86%; PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun 62,88% sejak awal tahun dan 16,26% dalam setahun; PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 39,65% sejak awal tahun dan 52,35% setahun terakhir; dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 66,93% sejak awal tahun dan 48,39% dalam setahun terakhir.
MSCI menahan langkah rebalancing untuk saham-saham Indonesia menyusul adanya kekhawatiran pelaku pasar global terkait tingginya konsentrasi kepemilikan saham (high shareholding concentration) di bawah kelompok tertentu, serta isu manipulasi perdagangan.
Sentimen negatif ini langsung memicu aksi jual massal oleh investor pasif maupun asing.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, pengumuman MSCI itu memicu passive outflow dan meningkatkan volatilitas jangka pendek, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan seiring penyesuaian portofolio investor institusi global berbasis MSC.
Dengan bobot Indonesia yang berada di kisaran 0,72% saat ini, diperkirakan potensi arus dana yang keluar dari pasar saham Indonesia ditaksir mencapai Rp28-31 triliun.
Momentum Penguatan Fundamental
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan keputusan rebalancing MSCI harus dijadikan momentum pembenahan dan penguatan fundamental pasar modal Indonesia agar semakin sehat, transparan, dan kredibel di mata investor global.
Menurutnya, tekanan yang terjadi di pasar saham akibat keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks MSCI merupakan konsekuensi jangka pendek yang perlu disikapi secara proporsional.
"Pasar modal yang kuat tidak dibangun hanya dari euforia kenaikan indeks, tetapi dari kredibilitas sistem, kualitas tata kelola, dan kepercayaan investor terhadap integritas pasar," kata Misbakhun dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia menilai tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa minggu terakhir lebih dipengaruhi penyesuaian portofolio jangka pendek dibanding pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Misbakhun mendorong penguatan basis investor domestik, peningkatan kualitas emiten, serta pendalaman pasar keuangan agar ketahanan pasar modal Indonesia tidak terlalu bergantung pada arus modal asing jangka pendek.
"Investor harus melihat ini dalam perspektif jangka panjang. Pasar kita tetap memiliki prospek yang baik selama reformasi struktural dan penguatan integritas pasar dijalankan secara konsisten," ujar Misbakhun. (EER)