JAKARTA, AFU.ID — Jumlah penderita demensia di Indonesia diperkirakan telah melampaui 2 juta orang pada 2025. Alzheimer menjadi bentuk demensia yang paling banyak ditemukan, sementara tingginya kasus penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi, dan diabetes ikut memperbesar risiko gangguan fungsi otak pada usia lanjut.
Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan jumlah lansia beriringan dengan bertambahnya kasus demensia. Penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas pada 2025 diperkirakan mencapai 34 juta orang atau sekitar 11,9 persen dari total populasi.
“Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025, dengan Alzheimer menjadi bentuk dominan dan menyumbang lebih dari 60 persen dari total kasus demensia nasional,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Demensia merupakan sindrom yang ditandai penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, perilaku, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini bukan bagian normal dari proses penuaan, meski lebih sering terjadi pada kelompok usia lanjut.
Menurut Imran, stroke menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap munculnya gangguan kognitif. Selain itu, hipertensi, diabetes, obesitas, gangguan tidur, depresi, stres berkepanjangan, serta penyakit pembuluh darah juga berkontribusi terhadap penurunan fungsi otak.
Tingginya prevalensi penyakit-penyakit tersebut di Indonesia membuat risiko demensia semakin besar. Banyak kasus baru terdeteksi setelah gejala berkembang cukup berat, ketika pasien mulai mengalami kesulitan mengingat, berkomunikasi, atau mengenali lingkungan sekitar.
Di sisi lain, akses layanan untuk mendeteksi dan menangani gangguan kognitif masih belum merata. Tenaga kesehatan spesialis dan fasilitas rehabilitasi masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sehingga masyarakat di daerah sering menghadapi keterlambatan diagnosis dan penanganan.
“Distribusi tenaga kesehatan spesialis yang terkonsentrasi di kota besar memperparah kesenjangan akses layanan di daerah terpencil,” ujar Imran.
Tingginya kasus demensia juga berdampak pada keluarga. Perawatan pasien umumnya berlangsung dalam jangka panjang dan membutuhkan pendampingan intensif. Tidak sedikit anggota keluarga yang harus mengurangi aktivitas kerja atau menanggung biaya tambahan untuk perawatan.
Sejumlah gejala awal yang sering muncul antara lain mudah lupa, kesulitan mengingat informasi baru, perubahan perilaku, kebingungan terhadap waktu dan tempat, hingga penurunan kemampuan mengambil keputusan. Namun gejala tersebut kerap dianggap sebagai proses penuaan biasa sehingga pemeriksaan medis sering terlambat dilakukan.
Para ahli menilai pengendalian faktor risiko menjadi salah satu langkah penting untuk menekan peningkatan kasus demensia. Pengelolaan tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, kesehatan mental, kualitas tidur, serta pencegahan stroke dinilai berperan besar dalam menjaga kesehatan otak pada usia lanjut.
Dengan jumlah kasus yang terus meningkat dan populasi lansia yang semakin besar, demensia diperkirakan akan menjadi salah satu tantangan kesehatan utama Indonesia dalam beberapa dekade mendatang. (RHU)