JAKARTA, AFU.ID - Spekulasi pasar modal terkait manuver bisnis pengusaha nasional asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, memicu gelombang tinggi di Bursa Efek Indonesia. Isu rencana akuisisi raksasa terhadap 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik raja batu bara Dato' Low Tuck Kwong dan putrinya Elaine Low mengirimkan sentimen positif yang sangat kuat.
Imbasnya, fenomena yang dikenal sebagai Haji Isam Effect membuat kapitalisasi pasar portofolio bisnisnya meroket hingga nilai kekayaannya diperkirakan melejit Rp11 triliun hanya dalam rentang waktu tiga hari. Lonjakan drastis tersebut didorong oleh melesatnya harga saham lima emiten yang terafiliasi dengan Haji Isam pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026).
Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) memimpin penguatan dengan melonjak 24,88 persen ke level Rp2.510 per lembar, disusul PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) yang melejit 24,73 persen menjadi Rp1.715 per lembar. Tiga emiten lainnya turut mencatatkan kenaikan signifikan, yakni PT Pratama Guna Nusa Tbk (PGUN) naik 19,93 persen ke posisi Rp9.175, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menguat 10,88 persen ke harga Rp530, serta PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) yang terkatut naik 9,46 persen menjadi Rp324 per saham.
Volume perdagangan kelima saham tersebut tercatat melambung jauh di atas rata-rata 20 hari terakhir, menandakan gairah tinggi para investor. Di saat bersamaan, saham BYAN sendiri melonjak hingga 20 persen ke level Rp14.400 per lembar dengan frekuensi perdagangan mencapai 984 kali dan total nilai transaksi sebesar Rp17,20 miliar.
Rumor pengambilalihan saham pengendali BYAN ini dinilai sangat strategis mengingat gabungan porsi kepemilikan Low Tuck Kwong sebesar 40,22 persen dan Elaine Low sebesar 22 persen berada tepat di angka 62,22 persen. Nilai estimasi akuisisi atas mayoritas saham perseroan yang memiliki aset tambang batu bara tersebar di Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Tanah Bumbu tersebut ditaksir mencapai US$5,5 miliar atau setara Rp99 triliun.
Sinyal aksi korporasi skala raksasa ini makin menguat tatkala Haji Isam tertangkap kamera melakukan kunjungan lapangan langsung ke area operasional tambang Tabang/Pakar milik BYAN di Kabupaten Kutai Kartanegara pada Sabtu (15/8/2026). Dalam peninjauan tersebut, Haji Isam hadir sebagai pemilik Jhonlin Group dengan didampingi langsung oleh Low Tuck Kwong serta pemilik Republikorp, Norman Joesoef.
Kunjungan yang dilanjutkan dengan pertemuan jajaran direksi dari masing-masing entitas tersebut disinyalir menjadi panggung awal pembahasan konsolidasi aset serta penyelarasan strategi bisnis sebelum transaksi dieksekusi. Langkah konsolidasi tersebut makin memicu teka-teki setelah PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) mengumumkan rencana penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada Senin (21/9/2026) mendatang.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Senin (17/8/2026), pendaftaran pemegang saham yang berhak hadir akan ditutup pada Kamis (27/8/2026) pukul 16:00 WIB, dengan pengumuman pemanggilan resmi beserta mata acara rapat yang diterbitkan pada Jumat (28/8/2026). Meskipun JARR belum menguraikan agenda utama rapat tersebut, pelaku pasar berspekulasi kuat bahwa agenda ini erat kaitannya dengan restrukturisasi atau pendanaan aksi akuisisi.
Di tengah riuhnya spekulasi dan lonjakan harga saham di bursa, manajemen perseroan memberikan tanggapan resmi. Sekretaris Perusahaan Bayan Resources, Jenny Quantero, menegaskan, hingga saat ini manajemen BYAN tidak memiliki informasi resmi mengenai Rencana Transaksi akuisisi 62,2 persen saham oleh Haji Isam atau pihak terafiliasi.
"Pemegang saham pengendali Bayan telah menyampaikan kepada kami bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor, mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasinya di perseroan," kata Jenny dalam keterangan tulisnya.
Sementara itu, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus, turut menilai bahwa meski belum ada dokumen resmi transaksi yang dibuka ke publik, kecocokan angka kepemilikan 62 persen dalam rumor tersebut terlalu spesifik untuk diabaikan begitu saja oleh para pelaku pasar. “Angka 62% dalam rumor sangat dekat dengan 62,22%, yaitu gabungan kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Ini belum membuktikan adanya transaksi, tetapi secara analitis terlalu spesifik untuk diabaikan,” ujar Iskandar dalam keterangan tertulisnya. (MAR)