JAKARTA, AFU.ID – Pemerintah mengeklaim pasokan gas nasional masih aman karena lifting gas mencapai target APBN. Namun, klaim itu tidak langsung membuat harga gas untuk industri menjadi murah. Masalah muncul di wilayah barat Jawa. Produksi gas lokal menurun, sementara kebutuhan industri di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta tetap tinggi. Akibatnya, sebagian pasokan harus ditutup menggunakan LNG dari luar Jawa yang membutuhkan biaya transportasi, regasifikasi, dan penyaluran kembali melalui pipa.
Kondisi tersebut membuat harga LNG untuk industri sempat melonjak ke kisaran 20 sampai 23 dolar AS per MMBTU. Pemerintah kemudian memangkas harga LNG industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU untuk menahan beban produksi dan mencegah ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan persoalan utama bukan pada ketersediaan gas secara nasional, melainkan pada biaya LNG yang terlalu tinggi saat sampai ke industri.
“Jadi masalahnya adalah bukan tidak adanya gas, gas ada tapi harga LNG-nya yang mahal,” kata Bahlil dalam konferensi pers usai rapat koordinasi di DPR, Senin (29/6/2026). Rapat koordinasi itu dihadiri pimpinan DPR, Dewan Ekonomi Nasional, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, Pertamina, dan Pertagas. Forum tersebut membahas tekanan ekonomi, termasuk kenaikan harga gas industri yang dikeluhkan pelaku usaha dan serikat pekerja.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan pemerintah menerima keluhan dari asosiasi industri dalam hampir 10 hari terakhir. Aspirasi itu antara lain datang dari sektor keramik dan serikat pekerja. Menurut Bahlil, Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah menjaga keberlangsungan industri dan lapangan pekerjaan. Dari pembahasan tersebut, pemerintah menetapkan tiga skema harga gas industri.
Harga gas bumi tertentu atau HGBT tetap berada di kisaran 6,5 sampai 7 dolar AS per MMBTU. Gas pipa industri non-HGBT dari sumur di wilayah Jawa dipatok 9,6 dolar AS per MMBTU. Sementara LNG industri diturunkan menjadi 13 dolar AS per MMBTU. “Ini tidak mengenakkan semuanya, tapi kita harus ikat pinggang untuk menyelamatkan lapangan pekerjaan,” ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan LNG yang dipakai untuk menutup kebutuhan industri di barat Jawa didatangkan dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan sejumlah daerah lain. Rantai pasok yang panjang membuat harganya jauh lebih mahal dibanding gas pipa dari sumber lokal. Sebelum diputuskan menjadi 13 dolar AS per MMBTU, pelaku industri sempat mengusulkan harga LNG berada di kisaran 15 sampai 16 dolar AS per MMBTU.
Industri Barat Jawa Rentan
Bahlil menyebut produksi gas di Jawa Timur masih sesuai target. Persoalan justru terjadi di wilayah barat yang menjadi penopang kebutuhan industri di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Situasi ini memperlihatkan perbedaan antara kondisi nasional dan kenyataan di kawasan industri. Secara total, gas tersedia. Namun, ketika sumber lokal menurun dan kebutuhan ditambal LNG, harga yang diterima industri tetap tinggi.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut keputusan pemerintah memangkas harga LNG menjadi kabar baik bagi pelaku industri dan serikat pekerja. Sebab, kenaikan harga gas sebelumnya dikhawatirkan dapat memicu PHK. Bagi industri, harga energi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produksi. Jika biaya gas terlalu tinggi, daya saing bisa melemah dan tekanan terhadap tenaga kerja semakin besar.
Rapat koordinasi tersebut juga membahas kondisi ekonomi makro di tengah ketidakpastian global. Dewan Ekonomi Nasional menyoroti kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, pelemahan rupiah, dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Anggota Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu mengatakan stabilitas makroekonomi perlu menjadi prioritas jangka pendek. Ia juga mengingatkan tekanan terhadap rupiah perlu diwaspadai.
“Kita memang menghadapi pelemahan rupiah yang lebih daripada peers kita,” kata Mari. Bank Indonesia menyatakan telah menaikkan BI rate sebesar 100 basis poin dalam satu bulan terakhir menjadi 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan menyebut APBN masih terkendali dan likuiditas perbankan tetap dijaga agar kredit mengalir ke sektor usaha.
Pemangkasan harga LNG menjadi 13 dolar AS per MMBTU menjadi solusi cepat untuk meredam tekanan biaya produksi. Namun, persoalan dasar belum selesai. Selama pasokan gas lokal di wilayah barat Jawa belum kuat, industri tetap rentan membayar mahal ketika harus bergantung pada LNG dari luar Jawa. (FAD)