Jakarta Kamis, (16/04/26) AFU.ID — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan melakukan riset strategis dalam rangka memacu dan meningkatkan kualitas industri riset kosmetik dalam negeri.
"Industri kosmetik kita itu kan tumbuh 77 persen dari tahun 2020 hingga 2024-2025. Bayangkan 77 persen, ini menunjukkan bahwa market untuk industri ini sangat tinggi, dan market ini hanya bisa kita penuhi kalau kita punya inovasi-inovasi yang unggul, kita punya teknologi yang bagus, sehingga itu bisa diterapkan di industri, sehingga bisa menjadi mesin pertumbuhan bagi industri," kata Kepala BRIN, Arif Satria saat ditemui di sela kegiatan BRIN Goes To Industry III di Jakarta, Kamis.
Arif menilai ketergantungan terhadap merk kosmetik luar negeri harus dikurangi, sebab pasar kosmetik Tanah Air diproyeksikan mencapai sekitar 7,5 miliar dolar AS atau lebih pada 2024-2025, sehingga industri kosmetik dalam negeri harus memiliki andil besar dalam hal ini.
Oleh karena itu, melalui riset strategis, ia berharap agar Indonesia kuat di hulu dan hilir dalam bidang industri kosmetik, tidak hanya sebagai pengekspor bahan mentah.
"Kita ingin nilai tambah itu di Indonesia, sehingga mau tidak mau, kita harus tetap ingin hilirisasi dan juga huluisasi. Karena apa? Huluisasi itu penting agar industri yang memang memerlukan bahan baku dari kita mendapatkan bahan baku yang berkualitas, bahan baku yang kontinu," ujarnya.
Kalau kualitas dan kontinuitas bisa dijamin oleh sektor hulu, maka sebuah industri juga akan bisa berkembang dengan baik.
Ia mengungkapkan saat ini pihaknya telah melakukan riset di bidang pengolahan minyak atsiri, yang menjadi salah satu bahan baku parfum, serum, dan krim wajah.
Melalui kegiatan BRIN Goes To Industry III ini, kata dia, diharapkan sinergi antara riset dan kebutuhan industri dapat terjalin, sehingga hal ini dapat bermuara pada penguatan riset dan industri di Indonesia.
"Jangan sampai BRIN melakukan riset, kemudian itu murni hanya imajinasi peneliti, ketika sudah selesai, industri tidak memerlukan ternyata. Itulah yang kita hindari," ucap Arif Satria. (ANT/RHU)