AFU.id

Biofarmasi Perkuat Industri Farmasi Nasional, Tekan Ketergantungan Impor Obat Mahal

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Industri farmasi nasional Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada impor obat mahal melalui penguatan kapasitas produksi domestik, yang diimplementasikan melalui pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) hasil kerja sama antara PT Tempo Scan Pacific Tbk dan Sino Biopharmaceutical Group. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya kolaborasi ini untuk mengembangkan produk biologis seperti antibodi monoklonal dan insulin, serta meningkatkan daya saing industri farmasi nasional. Selain itu, pengakuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI oleh WHO sebagai otoritas berstandar internasional semakin memperkuat kepercayaan investor dan mendukung pengembangan produksi obat dalam negeri.

Biofarmasi Perkuat Industri Farmasi Nasional, Tekan Ketergantungan Impor Obat Mahal
Suasana Ceremony of the Establishment of PT TCBI di Jakarta, Jumat (24/7/2026). (Foto: Kemenko Perekonomian RI)

Industri Farmasi Nasional Perluas Produksi Biofarmasi dan Transfer Teknologi

Selain penguatan kapasitas produksi, kredibilitas regulator menjadi faktor penting dalam pengembangan industri farmasi nasional. Apalagi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah mendapat pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai WHO-Listed Authority (WLA). Pengakuan itu menempatkan BPOM RI dalam jajaran regulator obat berstandar internasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor kesehatan di Indonesia.

Secara global, terdapat 41 otoritas regulatori dari 39 negara yang masuk dalam daftar WLA. BPOM RI bahkan disebut berada dalam jajaran 10 regulator obat terbaik dunia dan menjadi satu-satunya otoritas regulatori mandiri dari negara berkembang. Capaian itu kian memperkuat fondasi pengembangan produksi obat dalam negeri yang membutuhkan kepastian mutu dan pengawasan ketat.

Di sisi lain, pembentukan TCBI menggabungkan kemampuan manufaktur PT Tempo Scan Pacific Tbk dengan pengembangan produk Sino Biopharmaceutical Group. Sinergi itu membuka ruang pengembangan produk biologis yang sebelumnya belum tersedia secara luas di dalam negeri. Model kemitraannya juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara kapasitas industri nasional dan keunggulan teknologi global.

Dengan demikian, tantangan penguatan industri farmasi nasional tak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi, ketersediaan talenta, dan kepastian standar regulator. Jika kemitraan tersebut mampu menghasilkan produksi biofarmasi secara konsisten, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan impor obat bernilai tinggi. Keberhasilan itu akan menjadi ukuran penting apakah investasi strategis benar-benar menghasilkan kemandirian industri kesehatan. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi