JAKARTA, AFU.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memanggil Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Arief Setiawan Handoko untuk membahas kenaikan harga gas industri di Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta. Pemanggilan itu dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto menelepon Bahlil mengenai persoalan harga gas di tengah laporan potensi pemutusan hubungan kerja di industri keramik.
“Pak Arief, habis ini ikut saya. Kita bahas tentang gas untuk industri,” kata Bahlil saat meresmikan Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, Kamis, (25/6/2026).
Bahlil mengatakan harga gas untuk industri di Jawa Timur masih terkendali. Namun, harga gas di Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta mengalami kenaikan sehingga pemerintah perlu membahas kembali pelaksanaan Harga Gas Bumi Tertentu atau HGBT bersama PGN.
“Tadi Pak Presiden telepon saya di jalan soal ini,” ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, kenaikan harga gas dipicu penurunan lifting gas yang berdampak pada pasokan melalui jaringan pipa. Kondisi itu membuat kebutuhan industri di sejumlah wilayah harus dipenuhi menggunakan liquefied natural gas atau LNG dengan harga lebih tinggi.
“Terpaksa kami pakai LNG. Sehingga, harganya memang agak naik. Nah, ini yang kita harus cari jalan tengah untuk mendorong ke sana,” katanya.
Persoalan kenaikan harga gas industri sebelumnya disorot Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad setelah menerima laporan serikat pekerja mengenai potensi PHK di salah satu pabrik keramik besar di Bekasi, Jawa Barat. Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Andi Gani Nena Wea menyebut PHK tersebut berpotensi berdampak terhadap lebih dari 50 ribu pekerja.
Dasco mengatakan DPR akan berkomunikasi dengan Direktur Utama PT Pertamina serta perwakilan serikat pekerja untuk membahas solusi atas kenaikan harga gas. Ia menyebut persoalan pasokan dan harga gas perlu segera ditangani agar tidak meluas menjadi tekanan terhadap pekerja industri. (RHU)