JAKARTA, AFU.ID – Ford mengakui penggunaan kecerdasan buatan dan sistem pemeriksaan kualitas otomatis belum cukup mencegah masalah pada kendaraan. Produsen mobil asal Amerika Serikat itu kemudian merekrut dan menarik kembali sekitar 350 engineer berpengalaman, termasuk mantan pegawai Ford serta tenaga teknis dari perusahaan pemasok.
Langkah itu diambil setelah Ford menemukan sejumlah persoalan desain dan komponen tidak dapat diantisipasi hanya dengan memasukkan data serta persyaratan teknis ke dalam sistem AI. Engineer senior kini dilibatkan untuk menelusuri titik kegagalan sebelum komponen masuk ke lini produksi.
“Kami salah mengira. Kami kira hanya dengan memperkenalkan AI dan memasukkan persyaratan desain yang kami miliki, itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Namun ternyata kami salah,” kata Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford Charles Poon, dikutip TechCrunch, Senin (29/6/2026).
Ford tidak meninggalkan AI sepenuhnya. Perusahaan justru kembali mengandalkan pengalaman engineer senior untuk memeriksa desain, membimbing pekerja muda, serta menyempurnakan sistem otomatis agar mampu mengenali potensi cacat kendaraan lebih awal.
Chief Operating Officer Ford Kumar Galhotra mengatakan perusahaan sebelumnya semakin mengandalkan sistem kualitas otomatis, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Ford kemudian kembali menempatkan spesialis teknis untuk mencari titik kegagalan sebelum suatu komponen mencapai lantai pabrik.
“Kami semakin mengandalkan sistem kualitas otomatis dan tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Kami membawa kembali spesialis teknis untuk mencari titik kegagalan sebelum komponen mencapai lantai pabrik,” kata Galhotra, Senin (29/6/2026).
Perubahan pendekatan itu mulai terlihat pada hasil Initial Quality Study 2026 yang dirilis J.D. Power. Ford mencatat 152 masalah per 100 kendaraan dan menempati posisi tertinggi di antara merek kendaraan mass-market, di atas Nissan dan Buick.
Ford menyebut perbaikan kualitas kendaraan turut menekan biaya garansi serta mengurangi kebutuhan penarikan kembali produk. Namun, AI tetap dipertahankan sebagai alat pendukung, sementara penilaian teknis dan pengalaman engineer menjadi bagian utama dalam menjaga mutu kendaraan. (RHU)