JAKARTA, AFU.ID – Pemerintah Provinsi Banten mendorong penerapan pertanian modern berbasis teknologi untuk mempercepat regenerasi petani. Langkah itu dilakukan karena mayoritas petani di Banten saat ini didominasi kelompok usia tua. Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Nasir mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Sebab, minimnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian dapat mengancam keberlanjutan produksi pangan di masa depan "Usia rata-rata petani di Banten sekarang mungkin 90 persen itu di atas lima puluh tahun. Kami khawatir siapa yang akan melanjutkan lahan produksi untuk menghasilkan pangan kita ke depan," kata Nasir di Serang, Sabtu (20/6/2026).
Nasir menyebut rendahnya minat anak muda masuk ke sektor pertanian tidak lepas dari stigma yang masih melekat. Profesi petani kerap dianggap sebagai pekerjaan berat, kotor, tidak menarik, dan kurang menjanjikan secara ekonomi. Padahal, menurut dia, pertanian bisa menjadi sektor yang menguntungkan jika dikelola secara profesional.
Bahkan, lahan terbatas tetap dapat menghasilkan pendapatan di atas upah minimum apabila ditanami komoditas bernilai tinggi dengan manajemen yang tepat. Untuk mengubah persepsi tersebut, Dinas Pertanian Banten mulai menjalankan sejumlah program regenerasi.
Di antaranya pembentukan Petani Muda Milenial, penunjukan duta pertanian atau agriculture ambassador, serta pembentukan kelembagaan baru bernama Brigade Pangan. Melalui Brigade Pangan, pengelolaan kawasan pertanian diserahkan kepada kalangan muda, termasuk para sarjana pertanian.
Mereka didorong mengelola lahan dalam skala luas dengan dukungan sarana produksi dan alat mesin pertanian. "Kita buat kelembagaan baru berupa Brigade Pangan dengan manajemen pengelolaannya oleh sarjana anak muda. Mereka mengelola hamparan lahan 150 hektare dan disokong penuh dari hulu ke hilir, termasuk sarana dan alat mesin pertanian nya," ujar Nasir.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong konsep smart farming atau pertanian modern terintegrasi. Salah satunya melalui fasilitas smart screenhouse yang memungkinkan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi dilakukan secara presisi di lahan terbatas.
Sistem tersebut memanfaatkan teknologi Internet of Things atau IoT untuk mengatur kebutuhan tanaman. Mulai dari pemupukan digital, pengendalian suhu, hingga pemantauan kondisi lingkungan tanam. Pemprov Banten juga telah memberangkatkan 21 pemuda untuk mengikuti program magang pertanian di Jepang pada April lalu.
Program tersebut bertujuan memperkenalkan sistem pertanian modern bertaraf internasional kepada generasi muda. Nasir berharap para peserta magang dapat membawa pulang ilmu dan pengalaman yang bisa diterapkan di Banten. Dengan begitu, regenerasi petani tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga berlanjut pada praktik pertanian modern di lapangan.
Menurut Nasir, keberhasilan regenerasi petani harus diikuti dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Pemerintah perlu memastikan anak-anak muda yang tertarik bertani tidak kembali ke pola lama yang selama ini dianggap kurang menarik.
"Begitu pulang ke sini, tentu tidak sekadar mencangkul lagi. Makanya harus difasilitasi dengan alat-alat berbasis modern agar anak-anak muda tidak kembali ke pola pertanian tradisional yang dianggap kurang menarik," kata Nasir. Pemprov Banten berharap pendekatan berbasis teknologi dapat mengubah wajah pertanian menjadi sektor yang lebih modern, produktif, dan menarik bagi generasi muda. (ANT/FAD)