JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 334 warga Dusun Pujoraharjo, Desa Gunung Bundar, Kabupaten Pesawaran, Lampung, masih belum menikmati jaringan listrik PLN meski permukiman mereka telah berdiri sejak akhir 1960-an. Untuk menerangi rumah dan membantu anak-anak belajar, warga patungan membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro serta memasang panel surya secara mandiri. Dusun yang dihuni 104 kepala keluarga itu berada di kawasan pegunungan sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Perjalanan menuju lokasi memerlukan waktu sekitar satu jam 45 menit menggunakan sepeda motor dari Kota Bandar Lampung.
Warga mulai membangun turbin mikrohidro pada 2012 setelah belajar dari kampung tetangga. Aliran sungai pegunungan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik berskala kecil yang digunakan terutama pada malam hari. “Sekarang ini zamannya sudah maju. Ada handphone yang butuh setrum, kita juga butuh penerangan. Kalau masih pakai lampu sentir seperti dulu rasanya sudah tidak mungkin lagi,” kata warga Pujoraharjo, Turyanto, Rabu (15/7/2026).
Saat ini terdapat empat turbin yang dibangun menggunakan uang warga. Satu turbin menghabiskan biaya sekitar Rp20 juta dan digunakan bersama oleh 11 hingga 15 keluarga. Dana pembangunan dikumpulkan berdasarkan kemampuan masing-masing anggota kelompok. Setelah turbin beroperasi, setiap rumah membayar iuran sekitar Rp20 ribu per bulan untuk perawatan. Warga juga bergotong royong memeriksa dan membersihkan saluran air setiap hari. Ketika musim hujan, pipa yang membawa air ke turbin berisiko pecah akibat tertimpa kayu atau tersumbat sampah.
Meski telah mengeluarkan biaya sendiri, listrik yang diterima warga belum stabil. Daya yang dihasilkan bergantung pada debit sungai dan umumnya hanya cukup untuk menyalakan lampu serta mengisi daya telepon seluler. Ketika aliran air mengecil, sebagian rumah tidak memperoleh listrik. Warga yang tempat tinggalnya jauh dari sungai akhirnya membeli panel surya dengan biaya sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per rumah.
Panel tersebut juga belum mampu menjamin pasokan listrik sepanjang waktu karena bergantung pada cuaca. Warga masih harus mengganti aki yang umumnya hanya bertahan sekitar satu tahun. Keterbatasan listrik turut dirasakan dalam kegiatan pendidikan. Dusun Pujoraharjo memiliki sekolah dasar swadaya yang telah berdiri sejak era 1970-an, tetapi sumber listrik warga belum mampu mendukung penggunaan peralatan elektronik berdaya besar.
Kepala Dusun Pujoraharjo Maryadi berharap PLN membangun jaringan hingga ke wilayahnya. Menurut dia, pembangkit swadaya hanya menjadi jalan bertahan selama layanan listrik negara belum tersedia. “Kalau penginnya listrik PLN bisa masuk ke sini. Karena selama ini kami pakai turbin itu sangat kecil sekali. Hanya cukup untuk lampu dan penerangan saja,” ujar Maryadi.
Selama menunggu jaringan PLN, warga harus terus mengeluarkan biaya untuk membangun, memperbaiki, dan menjaga sumber listrik mereka sendiri. Keberhasilan warga menghadirkan cahaya melalui gotong royong sekaligus menunjukkan masih adanya permukiman yang belum memperoleh pelayanan dasar setelah lebih dari setengah abad berdiri. (RHU)