Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Target Olimpiade Tersendat Anggaran Tahunan, Pembangunan Olahraga Nasional Diubah Multiyears
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Pembangunan olahraga nasional berorientasi jangka panjang menghadapi tantangan besar: kepastian anggaran pemusatan latihan yang masih bersifat tahunan. Hambatan birokrasi dana itu berpotensi menghambat kontinuitas prestasi atlet di kancah dunia.
Presiden RI, Prabowo Subianto bersama Menpora Erick Thohir dan Pelatih Timnas Indonesia, yakni John Herdman di kediaman pribadinya, Hambalang, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026). (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)
JAKARTA, AFU.ID — Pembangunan olahraga nasional berorientasi jangka panjang menghadapi tantangan besar: kepastian anggaran pemusatan latihan yang masih bersifat tahunan. Hambatan birokrasi dana itu berpotensi menghambat kontinuitas prestasi atlet di kancah dunia.
Melansir presidenri.go.id, Sabtu (20/6/2026) perubahan skema pembiayaan pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjadi multiyears sangat mendesak demi menyongsong Olimpiade. Reformasi tata kelola anggaran itu menjadi kesepakatan antara Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir.
Kepastian pendanaan tahun jamak menjadi kunci utama agar persiapan performa fisik olahragawan tidak terputus di tengah jalan. Menpora Erick Thohir menegaskan pentingnya komitmen anggaran berkelanjutan demi masa depan kompetisi.
“Yang namanya pelatnas, tidak mungkin dianggarkan per tahun, itu harus multiyears dan Bapak Presiden sepakat. Apalagi, memang untuk mempersiapkan masa depan atlet kita untuk Olimpiade, SEA Games, Asian Games. Hari ini, banyak sekali para atlet kita mulai menunjukkan prestasinya,” ungkapnya.
Selain masalah anggaran, perluasan hak bagi penyandang disabilitas menjadi sorotan tajam guna menciptakan pemerataan kesempatan kepelatihan. Berdasarkan data demografi, populasi kelompok kegemaran olahraga ini mendominasi antara 23,9 juta hingga 25,9 juta atau 11% dari total penduduk.
“Yang pasti, Bapak Presiden sangat peduli dengan olahraga disabilitas dan ingin benar-benar diperhatikan. Salah satu programnya adalah sertifikasi kepelatihan untuk mereka,” tutur Menpora RI.
Penataan rantai prestasi atlet juga dirancang sejak dini melalui pembentukan ekosistem Akademi Olahraga Nasional. Langkah taktis itu menyasar anak-anak usia 8 hingga 10 tahun dari jenjang sekolah dasar hingga menengah.
“Jadi, siapa yang akan menjadi atlet ke depan, dari usia 8-10 tahun sudah mulai dibina. Saya sudah paparkan rencana pembangunan Akademi Olahraga Nasional ini kepada Bapak Presiden,” ujar Menpora Erick.
Anggaran Pembiayaan Mengawal Pembangunan Olahraga Nasional
Reformasi tersebut juga mencakup evaluasi berkala terhadap jaminan kesejahteraan masa tua para olahragawan berprestasi nasional. Erick Thohir menilai, penguatan regulasi jaminan sosial sangat penting agar para mantan atlet tak terlantar usai pensiun.
“Bapak Presiden tanyakan mengenai dana pensiun atlet yang masih kita terus godok bagaimana persiapan ke depannya itu,” pungkasnya.
Perubahan paradigma dari anggaran tahunan menjadi jangka panjang memberikan harapan baru bagi masa depan industri olahraga tanah air. Namun, efektivitas kebijakan jangka panjang ini bergantung penuh pada transparansi distribusi dana di tingkat pengurus cabang olahraga. (ADR)