JAKARTA, AFU.ID- Tak mau kalah dari warga Dusun Umbul Glimbung, Lampung Timur, yang membangun jalan secara swadaya, warga Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, juga secara swadaya membangun sekolah demi masa depan anak-anak mereka. Lebih hebatnya, mereka tak hanya patungan untuk membangun lokal sekolah tetapi juga untuk membeli tanahnya.
Langkah ini diambil warga demi menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih layak bagi anak-anak di wilayah pedalaman. Selama ini, proses belajar mengajar terpaksa berlangsung secara berpindah-pindah dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya. Karena jumlah peserta didik yang terus bertambah, sistem tersebut dinilai sudah tidak lagi memadai.
Aksi warga Pedukuhan atu Nyangka ini, terungkap dari unggahan di media sosial media, Sabtu (12/7/2026). Warga nekat patungan membeli tanah dan membangun lokal sekolah karena sekolah terdekat dari pedukuhan itu berjarak 15 kilometer.
Kontan aksi warga ini mmembuat netizen kembali gemas dan mempertanyakan kemana pajak yang dibayarkah rakyat selama ini. "Nah itu dia, Pajak khusus utk dikorupsi lewat MG dan Kopdes," kata akun @Naandaa27.
"Kalau pejabat lagi patungan buat brankas yg gede banget....," kata akun @Bonarto_kim. "Pemerentahnya lagi ikut liburan anak sekolah jadi jangan di ganggu dlu," ujar akun @RakyatBerbisik.
Pembangunan gedung sekolah sederhana ini sepenuhnya mengandalkan tenaga dan swadaya masyarakat setempat. Warga saling bahu-membahu mengangkut kayu dari hutan, mengumpulkan daun kirai sebagai bahan atap, hingga mendirikan bangunan sekolah tanpa bergantung pada bantuan pihak luar.
Hebatnya lagi, sebidang tanah yang dibeli dari hasil patungan warga tersebut langsung dihibahkan kepada pemerintah. Langkah ini sengaja ditempuh agar status lahan sekolah memiliki kepastian hukum yang jelas, sekaligus membuka peluang bagi sekolah tersebut untuk memperoleh dukungan dari pemerintah di masa mendatang.
Tokoh masyarakat Batu Nyangka, Junaidi, menjelaskan, aksi ini merupakan wujud nyata kepedulian warga terhadap masa depan generasi penerus. "Dulu anak-anak masih belajar di rumah-rumah warga. Setelah murid mulai banyak, kami gotong royong membangun sekolah," ujarnya.
Melalui kehadiran fisik sekolah ini, warga berharap kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman dan berkelanjutan. Fenomena di Pedukuhan Batu Nyangka ini memicu pertanyaan di tengah masyarakat mengenai sejauh mana kehadiran negara dalam pemenuhan hak pendidikan di wilayah terpencil.
Di tengah gencar-gencarnya program pemerataan pendidikan dan pembangunan fasilitas di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) oleh pemerintah, warga di pelosok Tanggamus ini justru harus berjuang mandiri agar anak-anak mereka tidak tertinggal. Warga memilih bergerak bersama dibanding menunggu kepastian bantuan yang belum jelas kapan datangnya.
Merespons inisiatif tersebut, Pemerintah Pekon Tanjung Raja menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh. Pihak pekon akan membantu pengurusan administrasi hibah tanah dan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus.
Kini, warga menaruh harapan besar agar pemerintah segera mengulurkan tangan dengan mengirimkan tenaga pendidik, menyediakan sarana belajar yang memadai, serta memberikan dukungan berkelanjutan agar anak-anak di pedalaman Lampung dapat menikmati layanan pendidikan yang setara dengan daerah lain.
MAR