JAKARTA, AFU.ID — Akses listrik masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya tuntas di Jawa Barat, meski usia kemerdekaan Indonesia telah menginjak 81 tahun. Sebanyak 80 ribu warga di provinsi ini tercatat masih hidup dalam kegelapan setiap malam akibat belum tersambung jaringan listrik. Persoalan ini disampaikan langsung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam peringatan HUT ke-81 RI di halaman Gedung Sate, Bandung.
"Kami menyampaikan permohonan maaf, 81 tahun Indonesia merdeka kami belum bisa memerdekakan seluruh rakyat Jawa Barat," ujar Dedi, Senin (17/8/2026). Dedi menyebut kondisi tersebut sebagai ironi besar, mengingat Jawa Barat dikenal sebagai pusat pemenuhan energi nasional dengan keberadaan sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Pusat energi nasional di Jawa Barat itu meliputi Jatiluhur, Jatigede, Cirata, Saguling, hingga potensi energi geotermal yang melimpah. Meski begitu, tidak seluruh warganya turut menikmati akses listrik dari kekayaan energi yang dimiliki daerahnya sendiri. Ia mengungkapkan pada awal menjabat tahun 2025, jumlah warga Jawa Barat yang belum memiliki akses listrik tercatat mencapai lebih dari 500 ribu jiwa.
Angka tersebut berhasil ditekan secara drastis di bawah kepemimpinannya hingga tersisa 80 ribu jiwa pada 2026. "Ada sebuah ironi ketika kita memiliki energi yang besar, tapi rakyat kita bahkan yang dekat di pembangkit itu tidak memiliki listrik. Seluruh ironi itu harus kita selesaikan secara bersama dan 2027 akan kami selesaikan," ucap Dedi.
Penyelesaian krisis akses listrik ini, lanjut Dedi, akan ditempuh melalui reorientasi sistem keuangan Pemprov Jabar bersama DPRD Jabar dan sejumlah instansi vertikal untuk lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. "Pemerintah itu enggak boleh abai pada layanan dasar. Infrastruktur menuju jalan besar di daerah berliku seperti Sukabumi, Cianjur, Garut secara bertahap harus terselesaikan," pungkas Dedi. (NAD)