JAKARTA, AFU.ID — Kementerian Pekerjaan Umum tidak akan memermanenkan kembali Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang sebelumnya diperbaiki warga secara swadaya dengan biaya sekitar Rp1 miliar. Pemerintah memilih menyiapkan jembatan shortcut di kawasan tersebut karena lokasi jembatan lama dinilai masih rawan longsor saat hujan deras.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan jembatan Enang-Enang yang ada saat ini hanya akan diperkuat agar tetap aman digunakan masyarakat. Namun, titik tersebut tidak akan dijadikan akses permanen utama. “Jadi kalau kita permanenkan di situ, takutnya nanti itu kalau hujan deras, longsor lagi, tetap akan jadi masalah,” kata Dody saat meninjau kawasan Enang-Enang, Bener Meriah, Rabu (8/7/2026).
Jembatan Enang-Enang merupakan akses penting di jalur nasional yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan dataran tinggi Gayo. Jalur itu menjadi lintasan menuju Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, hingga Aceh Tenggara.
Sebelumnya, warga Bener Meriah memperbaiki jembatan tersebut secara swadaya setelah akses transportasi terganggu pascabencana. Perbaikan itu menjadi sorotan karena masyarakat harus mengumpulkan dana sendiri agar jalur kembali bisa dilalui.
Dody mengatakan Kementerian PU akan membangun jembatan shortcut di sekitar kawasan Enang-Enang sebagai jalur alternatif baru. Jembatan tersebut dirancang memiliki beban maksimum hingga 30 ton sehingga dapat dilalui kendaraan angkutan barang. “Kita bikin maksimum 30 ton,” ujar Dody.
Meski demikian, jembatan lama Enang-Enang tidak akan dirobohkan. Pemerintah menyebut jalur tersebut tetap bisa digunakan sebagai akses alternatif pertama, terutama untuk warga setempat dan kendaraan kecil. Selain shortcut di sekitar Enang-Enang, Kementerian PU juga akan menyiapkan jembatan lain di kawasan Werlah, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Jalur Werlah selama ini menjadi akses alternatif masyarakat menuju Kabupaten Aceh Tengah.
Di jalur Werlah, pemerintah juga berencana memperlebar jalan kabupaten dari empat meter menjadi enam meter. Dengan rencana itu, nantinya masyarakat memiliki tiga alternatif akses, yakni jembatan Enang-Enang lama, jembatan Werlah, dan shortcut baru di kawasan Enang-Enang. “Alternatif yang kedua bagi masyarakat jembatan Werlah. Alternatif ketiga, kita bikin shortcut di sebelah sana. Jadi nanti akan ada tiga alternatif jalan bagi masyarakat,” kata Dody.
Namun, pemerintah belum merinci kapan pembangunan shortcut dan jembatan Werlah mulai dikerjakan. Kepastian waktu pembangunan menjadi penting karena akses Bireuen menuju dataran tinggi Gayo selama ini bergantung pada jalur yang rawan terganggu saat bencana dan cuaca buruk. (RHU)