JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 31 orang mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Seluruh korban terdiri dari santri dan guru Pondok Pesantren Al Mansuriah. Mereka kini menjalani perawatan di Puskesmas Cibatu, sementara penyebab keracunan masih dalam penyelidikan.
Peristiwa tersebut bermula setelah para penerima manfaat menyantap menu MBG pada Selasa (21/7/2026). Beberapa jam kemudian, para korban mulai mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, diare, sakit perut, dan pusing sehingga harus mendapatkan penanganan medis. Berdasarkan pendataan pemerintah daerah, jumlah pasien terus bertambah sejak tiga orang pertama datang sekitar pukul 13.00 WIB.
Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengatakan pemerintah daerah langsung melakukan pemantauan setelah menerima laporan dugaan keracunan tersebut. Seluruh korban dipusatkan di Puskesmas Cibatu agar kondisi kesehatannya dapat dipantau secara intensif. "Hari ini kami memonitor terkait dengan kejadian keracunan. Dari jam satu tadi ada tiga orang yang masuk, kemudian sekitar jam tiga bertambah lagi jadi 23, dan hari ini total ada 31 orang yang kita temui," katanya, Rabu malam.
Menu yang dikonsumsi korban diketahui terdiri atas nasi putih, telur berbumbu rendang, tempe asam manis, sayur sop, dan susu. Salah seorang korban, Widia, mengaku tidak menemukan kejanggalan pada makanan yang disantapnya sebelum gejala muncul beberapa jam kemudian. "Saya diare, muntah-muntah, sama buang air besar terus dari malam. Saya pikir itu lambung, ternyata teman-teman yang lain juga sama," ujarnya.
Kepala Seksi Humas Polres Garut Inspektur Dua Susilo Adhi membenarkan adanya kasus keracunan yang berkaitan dengan makanan MBG di wilayah Cibatu. Polisi bersama instansi terkait telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium sekaligus mengumpulkan keterangan dari pihak-pihak yang berkaitan dengan penyaluran makanan. "Diduga keracunan di wilayah Cibatu. Sebagian korban masih menjalani perawatan di puskesmas setempat. Petugas kami masih berada di lapangan," kata Adhi.
Hingga kini, belum ada laporan korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Pemerintah Kabupaten Garut bersama tenaga kesehatan masih melakukan pendataan terhadap warga lain yang diduga mengalami gejala serupa, termasuk mereka yang membawa makanan MBG untuk dikonsumsi di rumah. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut. (RAI)