JAKARTA, AFU.ID — Kasus dugaan keracunan yang menimpa santri dan pelajar di sejumlah lembaga pendidikan Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, ternyata bukan peristiwa terpisah. Seluruh paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para korban disebut berasal dari sumber yang sama, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sindangsuka. Jumlah warga yang mengalami gejala sakit kini bertambah menjadi 133 orang. Pemerintah Kabupaten Garut menghentikan sementara operasional dapur tersebut untuk pemeriksaan dan evaluasi.
Camat Cibatu Budi Darmawan mengatakan angka tersebut merupakan data yang diperoleh dari Kepala Puskesmas Cibatu. “Sementara data dari Pak Kapus Cibatu ada 133 orang,” kata Budi, Kamis (23/07/26). Para korban tidak seluruhnya dirawat di Puskesmas Cibatu karena kapasitas fasilitas kesehatan tersebut terbatas. Sebagian pasien akhirnya mendapatkan penanganan di klinik dan puskesmas lain di sekitar Kecamatan Cibatu.
Laporan awal berasal dari Pondok Pesantren Al Mansuriah sebelum korban dengan gejala serupa ditemukan di sejumlah sekolah wilayah Cibatu. Para santri dan pelajar tersebut sama-sama menerima paket makanan yang diproduksi dan didistribusikan SPPG Sindangsuka. Fakta itu menghubungkan gelombang pasien dari beberapa lembaga pendidikan dalam satu rangkaian distribusi makanan. Dampaknya terdeteksi di antaranya pada wilayah Desa Mekarsari dan Desa Sindangsuka.
Gelombang pasien mulai terlihat sejak Rabu malam setelah para korban mengeluhkan sakit perut, pusing, mual, muntah, dan diare. Makanan yang diduga berkaitan dengan munculnya gejala dibagikan pada Selasa, 21 Juli 2026, dengan menu nasi putih, telur, tempe, sayur sup, dan susu. Sebagian pelajar tidak langsung menyantap makanan di sekolah, tetapi membawanya pulang untuk dikonsumsi pada sore atau malam hari. Pemerintah belum menetapkan MBG sebagai penyebab pasti karena sampel makanan masih diperiksa di laboratorium.
Jumlah pasien yang datang hampir bersamaan membuat fasilitas kesehatan setempat sempat penuh dan membutuhkan tambahan tempat perawatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Garut turut menyediakan tempat tidur lipat untuk membantu penanganan korban. Tidak ada laporan korban meninggal dalam kejadian tersebut. Pemerintah daerah masih memantau kondisi pasien dan menyebarkan penanganan ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengatakan penghentian operasional dapur dilakukan untuk mendukung pemeriksaan Badan Gizi Nasional. Pemkab juga meminta evaluasi terhadap Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dan kelengkapan izin operasional SPPG Sindangsuka. Pemeriksaan diarahkan untuk memastikan proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan telah memenuhi standar keamanan pangan. Operasional dapur belum akan dilanjutkan sebelum pemeriksaan dan evaluasi selesai dilakukan.
Pemkab Garut bersama Bank BJB dan Baznas menyalurkan bantuan awal sebesar Rp250.000 kepada setiap korban serta menyiapkan paket sembako bagi keluarga terdampak. Bantuan tersebut diberikan di luar pelayanan kesehatan yang diterima para pasien selama masa pemulihan. Perkembangan ini memperjelas bahwa laporan santri dan pelajar yang sebelumnya terlihat berasal dari beberapa lokasi ternyata terhubung pada satu dapur pemasok yang sama. Penyebab pasti kejadian tetap menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan dan penyelidikan pihak berwenang. (RHU)