JAKARTA, AFU.ID — Pemilahan sampah dinilai menjadi kunci utama mengatasi persoalan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, termasuk mendukung pemanfaatan teknologi pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung menegaskan sampah yang tercampur justru menjadi kendala terbesar dalam proses pengolahan lebih lanjut.
Kepala Bidang DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy menjelaskan, persoalan terbesar yang dihadapi instansinya justru muncul sejak tahap pengangkutan, di mana sampah yang diterima masih dalam kondisi bercampur antara jenis organik dan anorganik. "Musuh terbesar kami itu adalah sampah campur," ujarnya. Menurutnya, sampah yang telah dipilah sejak awal jauh lebih mudah dikelola, baik untuk dimanfaatkan kembali maupun diolah menjadi sumber energi alternatif melalui teknologi yang tengah dikembangkan pihaknya.
DLH Kabupaten Bandung saat ini tengah mengembangkan pemanfaatan mesin RDF dengan pendampingan Bank Dunia, namun teknologi tersebut hanya bisa berjalan optimal jika sampah yang diolah sudah dalam kondisi terpilah. "Sampah campur seperti ini tidak mungkin dilakukan," katanya. Selain untuk kebutuhan RDF, pemilahan sampah juga menjadi bagian dari persiapan pengelolaan sampah regional, termasuk mendukung kesiapan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Legok Nangka yang masih dalam tahap pembangunan.
Dari total timbulan sampah di Kabupaten Bandung yang mencapai sekitar 1.600 ton per hari, DLH memperkirakan sekitar 320 ton di antaranya akan menjadi residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali, atau setara 20 persen dari keseluruhan volume sampah. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, komposisi sampah di Kabupaten Bandung didominasi jenis organik sekitar 50 persen, disusul sampah plastik sekitar 17 persen.
Abdul menyebut residu tersebut sebenarnya masih berpotensi dimanfaatkan apabila pengelolaannya sudah dilakukan sejak tahap awal. "Itu akan bisa dimanfaatkan," ujarnya. DLH Kabupaten Bandung berharap kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah dapat terus tumbuh demi mendukung efektivitas seluruh rangkaian proses pengelolaan sampah ke depan. (NAD)