MAKASSAR, AFU.ID - Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) asal Makassar, Cathlyn Yvaeni Lesmana, tiba-tiba dicoret dari daftar calon Paskibraka nasional.
Sebelumnya Cathlyn masuk tiga besar calon Paskibraka Sulawesi Selatan. Namun, namanya hilang tanpa alasan yang jelas. Pada pengumuman resmi yang terpilih adalah Keisha Ratu Utami, siswi SMAN 1 Jeneponto, Sulawesi Selatan. Keisha dipastikan akan bertugas di Istana Negara pada HUT RI ke-81 di tahun 2026.
Hal ini memicu protes keras dari Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar. Cathlyn memenangi setiap tahap seleksi dengan meyakinkan. Selain baris-berbaris dan kesamaptaannya unggul, skor tes wawasan kebangsaan 100, dan hasil tes intelegensi mencapai 95.
Cathlyn disebut-sebut terlempar dari daftar utusan Sulsel, karena ia dari etnis tionghoa dan tidak lancar berbahasa daerah.
Melalui aku instagramnya Instagram/@dppikotamakassar, DPPI Makassar mengunggah poster bertuliskan "Stop Diskriminasi dalam Program Paskibraka" dengan gambar empat lengan bertautan berlatar warna kuning.
Pada unggahan berikutnya menampilkan narasi tertulis: ... Segala bentuk diskriminasi dan rasisme merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, serta keadilan yang menjadi fondasi bangsa Indonesia.
"Jika sejak awal peserta sudah dihadapkan pada perlakuan rasis dan diskriminatif, maka yang sedang dibangun bukanlah persatuan, melainkan budaya ketidakadilan yang bertentangan langsung dengan semangat Pancasila," tulis akun tersebut.
Hal ini juga memicu protes dari Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti). "Peristiwa ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip keadilan, kesetaraan, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika," sebutnya dalam pernyataan resmi.
Gema Inti mendesak BPIP memberikan klarifikasi, menegaskan komitmen, menjamin proses yang adil, dan memberikan keadilan bagi Cathlyn.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel, Bustanul Arifin membantah ada diskriminasi. "Kami pastikan pelaksanaan seleksi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial," katanya ketika dikonfirmasi afu.id.
Seluruh tahapan penilaian, kata Bustanul, ditangani tim seleksi pusat yang terdiri dari unsur Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).
Penentuan peserta terpilih berdasarkan banyak aspek, termasuk wawasan kebangsaan, intelegensi umum, kesamaptaan, baris-berbaris, hingga aspek kepribadian. "Berdasarkan hasil seleksi, Kota Makassar mengirim tiga utusan putri. Namun Cathlyn bukan yang terbaik. Utusan lain memiliki nilai lebih tinggi,” jelasnya.
Ia menyebut belum pernah ada pengumuman hasil seleksi. "Tunjukkan ke saya mana pengumuman awal dan mana pengumuman yang menganulir tersebut," ucapnya.
Tentang etnis itu sama sekali bukan bagian penilaian. Kalau bahasa daerah, lanjutnya, menjadi pertimbangan tambahan akan tetapi bukan termasuk aspek penentu kelulusan.
Meski batal mewakili Sulsel ke tingkat nasional, Cathlyn disebut tetap bertugas sebagai anggota Paskibraka tingkat provinsi.
Kronologi PPI Makassar
DPPI Makassar berkeras bahwa proses seleksi Paskibraka Sulsel tidak profesional. Lembaga ini kemudian merilis kronologi lengkapnya.
Dari awal enam peserta utusan Kota Makassar masuk sebagai kandidat kuat lolos ke tingkat nasional. Mereka adalah Ghaisan Putra Asrul, Abdul Rahim Ramadhan, Muhammad Farid Alfarabi, Cathlyn Yvaine Lesmana, Meivylicha Putri Aurelia Kamal dan Putri Maharani.
Mereka meraih nilai tinggi pada tes wawasan kebangsaan, intelegensia umum, kesehatan, kesamaptaan hingga PBB selama dua hari seleksi.
Namun anehnya, nilai psikotes, wawancara, hingga rekam jejak media sosial tidak juga dimunculkan di aplikasi Transparansi Paskibraka.
Kejanggaan berikutnya, ketika seleksi akhir di kantor gubernur Sulsel, semua pendamping yang sudah dibekali ID Card resmi diminta meninggalkan ruangan. Di situlah peserta dinilai secara postur fisik, padahal proses itu seharusnya sudah beres di awal seleksi.
Untuk kasus Cathlyn, PPI Makassar menyebut Cathlyn sempat didiskriminasi saat tes kemampuan bahasa daerah. Ia tidak pernah mendapat giliran menjawab pertanyaan bahasa daerah. Cathlyn sempat izin ke toilet dan setelah kembali proses seleksi berjalan tanpa melibatkannya lagi.
PPI Makassar juga menyoroti munculnya sejumlah peserta yang sebelumnya tidak masuk 10 besar, namun tiba-tiba dimasukkan dalam kandidat tiga besar, yaitu peserta asal Jeneponto dan Gowa.
Komposisi awal tiga besar putri pada awalnya Meivylicha Putri Aurelia Kamal (Makassar) Cathlyn Yvaine Lesmana (Makassar) dan Taswina Putri (Bone). Namun belakangan, posisinya Cathlyn diganti Naura Dwi Maharani asal Gowa.
PPI Makassar menegaskan polemik ini bukan semata soal kalah atau menang dalam seleksi, tetapi tentang transparansi, objektivitas, dan kepatuhan terhadap aturan seleksi nasional.
Proses seleksi Paskibraka di berbagai daerah sering diwarnai kecurangan. Di Sumatra Barat muncul dugaan kecurangan oleh panitia seleksi, di mana salah satu peserta diubah nilainya dari 88.00 menjadi angka yang lebih rendah.
Orang tua peserta mengunggah bukti tersebut yang kemudian viral. namun unggahan itu kemudia diminta take down oleh Kesbangpol setempat.
Di Sulawesi Tenggara orang tua salah satu peserta Paskibraka bernama Doni Amansa dari Kabupaten Konawe mengaku dicurangi setelah nama anaknya yang merupakan calon inti tiba-tiba digantikan oleh cadangan dari wilayah yang disebut-sebut "Titipan". (MJR)