MAKASSAR, AFU.ID - Nama Cathlyn Yvaine Lesmana mendadak jadi bahan gaduh. Siswi asal Makassar itu sebelumnya masuk tiga besar calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka nasional dari Sulawesi Selatan. Nilainya disebut tinggi. Tes Wawasan Kebangsaan tembus 100. Tes Intelegensi Umum mencapai 95. Namun di detik akhir, namanya hilang. Diganti siswi asal Jeneponto, Keisha Ratu Utami.
Media sosial langsung panas. Publik bertanya. Apa sebenarnya yang terjadi di balik seleksi Paskibraka Sulsel 2026.
Ketua Purna Paskibraka Indonesia Makassar, Muhammad Fahmi, ikut bersuara. Ia mempertanyakan mekanisme penilaian yang dinilai tertutup. Padahal selama proses kegiatan di GOR Sudiang berlangsung terbuka.
“Tim penilai kan banyak unsur. Tapi teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian,” kata Fahmi, Senin, 25 Mei 2026.
Ia juga menyoroti pengumuman hasil yang disebut dilakukan dua kali. Menurutnya, hal itu memunculkan tanda tanya besar di kalangan peserta dan pembina.
“Penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan. Kita tidak permasalahkan siapapun lolos,” ujarnya.
Nama Cathlyn makin ramai setelah muncul dugaan dirinya tersingkir karena tidak fasih bahasa daerah. Isu itu memantik debat baru. Sebab Paskibraka nasional selama ini lebih dikenal menitikberatkan pada disiplin, wawasan kebangsaan, fisik, dan kepemimpinan.
“Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?” lanjut Fahmi.
Ironisnya, Cathlyn disebut menguasai bahasa Inggris dan Mandarin. Publik pun mulai menyeret isu diskriminasi dan dugaan ketidakadilan dalam proses seleksi.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, juga ikut merespons polemik itu. Ia mengaku prihatin terhadap kondisi mental peserta yang sudah berjuang panjang mengikuti seleksi.
“Kasihan anak-anak yang sudah berproses. Mereka sudah latihan, sudah mempersiapkan diri dengan baik. Yang dikhawatirkan itu mentalnya,” kata Munafri.
Munafri menegaskan Pemerintah Kota Makassar hanya mengirim delegasi ke tingkat provinsi. Setelah itu, seluruh kewenangan berada di panitia seleksi tingkat provinsi.
“Kita berharap hasil seleksi semuanya fair,” ujarnya.
Di sisi lain, nama Keisha Ratu Utami juga ikut terseret pusaran polemik. Siswi asal Desa Bontomatene, Jeneponto itu justru datang dengan kisah perjuangan panjang. Putri pasangan Samsumar, S.Pd dan Dewi Amelia itu disebut lolos setelah melewati serangkaian tes ketat. Mulai administrasi. Tes kesehatan. TWK. TIU. Kesamaptaan. Hingga psikotes dan wawancara.
Keisha disebut menjadi kebanggaan Jeneponto. Dari pelosok desa menuju seleksi nasional.
Namun publik telanjur gaduh. Bukan semata soal siapa yang lolos atau gagal. Tetapi tentang transparansi. Tentang standar penilaian. Tentang kepercayaan terhadap proses.
Sebab di mata banyak orang, Paskibraka bukan sekadar baris-berbaris. Ia simbol meritokrasi. Simbol bahwa siapa paling siap. Dialah yang berdiri di depan Merah Putih. (*)