JAKARTA, AFU.ID - Pemeran utama film dokumenter Pesta Babi, Yasinta Moiwend, melaporkan produser film Pesta Babi, Dandhy Laksono dan Ketua LBH Merauke Johnny Teddy Wakum ke Polda Metro Jaya, Selasa (2/6/2026).
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, laporan itu baru diungkap sekarang, namun sebetulnya telah diterima di sentra layanan masyarakat Polda Metro lima hari sebelumnya, yaitu (29/5/2026).
Adanya jeda waktu tersebut karena penyidik Ditreskrimum melakukan pendalaman lebih dulu. "Ini artinya bagi pelapor, saksi-saksi, serta barang bukti akan didalami," jelas Budi.
Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026. Pasal yang dituduhkan kepada terlapor adalah Pasal 65 juncto 67 tentang Perlindungan Data Pribadi.
Penasihat hukum Mama Sinta, Hamonangan Daulay, yang hadir di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, mengatakan, kliennya merasa sakit hati dan dirugikan atas pemutaran film tersebut. Sebagai salah satu pemeran utama, mama Sinta mengaku tak pernah dimintai izin.
Anomali Setelah Hilang Misterius
Sebelumnya Yasinta Moiwend hilang misterius dari rumahnya, Sabtu (30/5/2026). Keluarga Yasinta mengungkapkan serangkaian peristiwa janggal terkait menghilangnya mama Yasinta.
Mama Yasinya awalnya konsisten dengan pengakuannya sebagaimana direkam dalam film Pesta Babi. Pengakuan mama Yasinta adalah tentang bagaimana hutan dan tanah leluhur suku Malind diambil begitu saja untuk diubah menjadi kawasan industri perkebunan sawit, tebu, hingga proyek food estate.
Menurut rumah produksi Watchdoc, film tersebut telah ditonton 11 juta orang. Sampai di sini situasi baik-baik saja bagi mama Yasinta, hanya saja film itu menjadi polemik nasional dan pertunjukannya banyak dibubarkan oleh tentara.
Mama Yasinta menghilang begitu saja dan komunikasi dengan keluarga terputus. “Kami kehilangan kontak dengan beliau sejak hari Minggu. Kami menduga ada tekanan dan perencanaan tertentu yang dilakukan terhadap mama,” ujar perwakilan keluarga sebagaimana video yang disebar ke media.
Mama Sinta disebut tak pulang ke rumah dan bermalam di pos TNI kampung Wogekel, distrik Ilwayab. Keesokan harinya, ia dikabarkan ada bersama pihak-pihak yang oleh keluarga diduga terkait dengan pengamanan program PSN di wilayah Wanam.
Informasi mengenai perjalanan mama Sinta pun disebut berubah-ubah. Keluarga mengaku sempat menerima kabar kalau mama Sinta diberangkatkan menggunakan kapal menuju Merauke. Tetapi di waktu lain muncul informasi kalau ia menggunakan pesawat menuju Timika maupun kabupaten Boven Digoel.
Keluarga pun resah, dan meminta semua lembaga yang konsen pada hak asasi manusia turun tangan. “Kami merasa kehilangan mama karena beliau dibawa tanpa sepengetahuan keluarga. Sampai sekarang kami tidak tahu kondisi beliau, apakah baik-baik saja atau sedang mengalami intimidasi,” kata pihak keluarga.
Muncul di Jakarta
D tengah kebingungan keluarga, Yasinta Moiwend malah muncul di Polda Metro Jaya. "Saya naik pesawat biasa dengan penumpang dari Jayapura ke Jakarta," katanya, Minggu (31/5/2026).
Ia membantah kesaksian bahwa ia dibawa ke Jakarta dengan pesawat pribadi milik PT Jhonlin Group. "Itu namanya provokator. Saya tidak pernah bertemu dengan Haji Isam dan melakukan perjalanan dari Wanam ke Merauke," katanya.
“TNI tidak jemput saya, tidak ada intimidasi. Kenapa kalian yang repot dengan saya? Saya datang ke Jakarta karena harga diri saya. Mereka putar film pesta babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali! Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka! Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati!” tegas Sinta dalam kesempatan yang sama.
Atas keanehan ini, Keluarga menduga tekanan psikologis telah memengaruhi keputusan yang diambil mama Sinta dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menilai kondisi tersebut berpotensi digunakan untuk melemahkan perlawanan masyarakat adat terhadap proyek-proyek yang dianggap mengancam ruang hidup warga di Merauke.
Dandhy Laksono melihat perubahan perilaku mama Yasinta itu sangat aneh. "Saya khawatir, hal ini sebagai bagian dari siasat agar perlahan masyarakat kehilangan fokus pada persoalan kolonialisme di Papua. Saat Mama Yasinta muncul ke publik membela tanah ulayatnya, kami yang ikut mendukung, menampakkan identitas jelas. Punya nama, punya wajah, punya lembaga,” jelasnya. (MJR)