JAKARTA, AFU.ID - Di balik dinginnya dinding asrama dan himpitan keterbatasan ekonomi keluarga, semangat belajar anak-anak Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar membuktikan, kemiskinan bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi tingkat nasional. Lahir dan tumbuh dari latar belakang keluarga kurang mampu yang mendapat akses pendidikan gratis berasarama melalui program Sekolah Rakyat, tujuh siswa SRMA 26 Makassar berhasil membuktikan diri dengan memboyong deretan medali pada Olimpiade Nasional Indonesia (ONI) 15, Airlangga Competition 19, dan Kompetisi Sains Pelajar Dalton (KPSD) 2026.
Keterbatasan fasilitas materi yang pernah mereka rasakan terbayar tuntas ketika nama-nama seperti Fahrani Ramadhani dan Muh. Amirullah diumumkan sebagai peraih medali emas panggung kompetisi sains dan matematika nasional. Bagi anak-anak yang terbiasa hidup prihatin ini, kesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi titik balik untuk membuktikan bahwa anak dari keluarga tak berpunya sanggup bersaing sejajar dengan siswa dari sekolah unggulan.
"Kami sangat bahagia dan turut bangga atas prestasi yang ditorehkan anak-anak. Membimbing dan terus menggerakkan mereka untuk memberikan yang terbaik adalah bentuk kepedulian dan rasa cinta kami. Kami berharap prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak Sekolah Rakyat mampu bersaing dan meraih cita-cita setinggi mungkin," ujar Wali Asrama SRMA 26 Makassar, Habibie, Minggu (9/8/2026)
Keberhasilan meraih prestasi di bidang yang kerap dianggap menakutkan seperti matematika tidak lepas dari tangan dingin sang guru, Kiki Novita Sari. Memahami latar belakang para siswa yang membutuhkan dorongan percaya diri ekstra, Kiki meluangkan waktu di luar jam pelajaran untuk membuka kelas tambahan, berdiskusi, hingga memandu mereka belajar mandiri.
"Saya tidak ingin anak-anak menganggap matematika hanya kumpulan rumus. Saya ingin mereka memahami proses di balik setiap konsep sehingga belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan. Saya bangga karena mereka belajar dengan sangat mandiri, mencari informasi sendiri, berdiskusi, dan terus berusaha berkembang," ungkap Kiki Novita Sari.
Bagi Muh. Amirullah, salah satu siswa peraih medali emas KPSD 2026 tingkat provinsi bidang Matematika, pencapaian ini terasa hampir tak nyata mengingat kerumitan soal yang harus dihadapi di tengah keterbatasannya. "Saya sangat kaget dengan hasilnya karena soalnya begitu rumit. Namun saya mampu meraih medali emas berkat bimbingan guru-guru, khususnya Ibu Kiki sebagai guru Matematika. Harapan saya, kemampuan matematika saya terus berkembang dan dapat berprestasi di tingkat yang lebih tinggi," tutur Amirullah.
Rasa haru dan syukur senada diungkapkan Fahrani Ramadhani yang menyabet Medali Emas ONI 15 bidang Matematika. "Alhamdulillah saya mendapatkan medali emas. Saya berterima kasih banyak kepada guru-guru, wali asuh, wali asrama, terutama Ibu Kiki Novita Sari selaku guru Matematika di SRMA 26 Makassar. Insya Allah saya bisa meningkatkannya lagi," kata Fahrani.
Daftar torehan prestasi siswa SRMA 26 Makassar dalam ajang tersebut meliputi:
Fahrani Ramadhani: Medali Emas Olimpiade Nasional Indonesia (ONI) 15 bidang Matematika tingkat nasional.
Salwa Dzakila Asmar: Medali Emas Airlangga Competition 19 dan Medali Emas ONI 15 bidang Biologi tingkat nasional.
Aliya Wahyuni: Medali Emas ONI 15 bidang Bahasa Indonesia tingkat nasional.
Manohara: Medali Perak ONI 15 bidang Matematika tingkat nasional dan lolos tingkat nasional KPSD 2026 bidang Sosiologi.
Zeskia Aulia: Medali Perak ONI 15 bidang Biologi tingkat nasional.
Andi Husnul Khatimah: Medali Emas KPSD 2026 tingkat provinsi bidang Bahasa Indonesia serta lolos tingkat nasional bidang Sejarah.
Muh. Amirullah: Medali Emas KPSD 2026 tingkat provinsi bidang Matematika dan melaju ke tingkat nasional.
Untuk diketahui, SRMA 26 Makassar merupakan sekolah inklusif berkonsep asrama yang secara khusus memprioritaskan anak-anak dari keluarga prasejahtera, ekonomi lemah, serta anak yang sempat terancam putus sekolah karena kendala biaya. Berdasarkan keterangan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan verifikasi lapangan, penerimaan siswa Sekolah Rakyat dilakukan melalui pendataan latar belakang sosial-ekonomi keluarga (seperti kondisi orang tua yang kesulitan secara finansial, buruh harian, atau anak yatim/piatu), bukan berdasarkan nilai tes akademis awal.
Seluruh siswa yang berada di asrama SRMA 26 Makassar—termasuk Fahrani dan Amirullah—berasal dari kriteria keluarga prasejahtera yang mendapatkan dukungan penuh berupa tempat tinggal, pakaian, perlengkapan sekolah, hingga pendampingan belajar gratis dari negara. Deretan medali yang diraih anak-anak dari keluarga marjinal ini menjadi cerminan bahwa ketika anak-anak kurang mampu diberikan ruang, kesetaraan akses, dan pembinaan yang penuh kasih sayang, mereka mampu melompati pagar keterbatasan dan berdiri tegak sebagai juara di tingkat nasional. (MAR)