JAKARTA, AFU.ID — Tekanan dari pola pengasuhan di rumah, perundungan di lingkungan sekolah, hingga pengaruh media sosial menjadi sederet faktor pemicu gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja. Kondisi tersebut kerap luput dari perhatian karena gejalanya tidak selalu mudah dikenali sejak awal. Situasi ini menjadi sorotan menyusul meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak setelah sejumlah kasus yang melibatkan pelajar.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yuniarto mengatakan, pola asuh yang terlalu menekan dapat membuat anak hidup dalam tekanan berkepanjangan. Orang tua yang menetapkan target berlebihan tanpa memperhatikan kondisi psikologis anak dinilai berisiko mengganggu perkembangan mental mereka. "Perilaku parenting dari orang tua yang punya target tertentu, yang senantiasa menekan anaknya, sehingga anak dalam suasana under pressure," kata Piprim dalam webinar yang diikuti di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Piprim mengajak para orang tua membangun lingkungan keluarga yang hangat dengan menerapkan konsep asah, asih, dan asuh dalam mendidik anak. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan mental jarang terjadi pada anak, padahal kondisi tersebut bisa dialami sejak usia dini. "Gangguan pada anak tidak mudah dideteksi, sehingga dibutuhkan kepekaan dari orang tua," ujarnya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K), menjelaskan masa remaja merupakan fase ketika berbagai faktor risiko mulai terbentuk. Ia menyebut lingkungan pertemanan, kondisi sekolah, penggunaan media sosial, konflik keluarga, hingga gaya hidup yang tidak sehat dapat memengaruhi kesehatan mental remaja. Karena itu, deteksi dini dan pendampingan dari keluarga maupun sekolah menjadi langkah penting untuk mencegah masalah berkembang lebih serius.
Angga mencontohkan kasus peledakan bom rakitan yang dilakukan seorang pelajar MAN 3 Kota Padang sebagai pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelajar berusia 17 tahun tersebut diketahui merupakan korban perundungan, mempelajari cara merakit bom melalui internet dan YouTube, kemudian membeli bahan-bahannya secara daring sebelum merakitnya di rumah. Meski ledakan tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian itu sempat memicu kepanikan di lingkungan sekolah.
Menurut Angga, kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak dan remaja perlu ditangani secara menyeluruh, bukan hanya ketika sudah memicu tindakan berbahaya. Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar dinilai berperan besar dalam membangun ketahanan mental anak sejak dini. Upaya menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk bercerita dan memperoleh pendampingan menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah dampak yang lebih buruk di kemudian hari. (RAI)