JAKARTA, AFU.ID — Presiden Prabowo Subianto meminta mikrofon dimatikan ketika Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syaiful Bakhri mulai memaparkan kemampuan pengolahan uranium Indonesia. Momen itu terjadi saat Prabowo meninjau pameran inovasi peneliti BRIN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (06/08/2026). Pemaparan kemudian dilanjutkan tanpa pengeras suara sehingga isi pembicaraan berikutnya tidak terdengar oleh media dan publik.
Syaiful awalnya menjelaskan kesiapan teknologi nuklir Indonesia, termasuk potensi sumber daya yang dapat digunakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi sekitar 89 ribu ton uranium dan lebih dari 140 ribu ton torium, angka yang sebelumnya juga pernah disampaikan BRIN kepada publik. Data tersebut merupakan potensi sumber daya, bukan berarti seluruhnya telah ditambang atau siap digunakan sebagai bahan bakar.
Situasi berubah ketika Syaiful mulai berbicara mengenai kemampuan pengolahan uranium. Dalam video yang beredar di media sosial, ia mulai menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk “memurnikan uranium” hingga sekitar 60 persen sebelum Prabowo memberi isyarat agar mikrofon dimatikan. Kamera yang berada dekat lokasi juga diminta menjauh, sementara Syaiful tetap melanjutkan penjelasan langsung kepada Presiden dan pejabat yang mendampinginya.
Belum terdapat penjelasan terbuka dari BRIN mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “pemurnian 60 persen” dalam pemaparan tersebut. Istilah itu penting diperjelas karena pemurnian bahan uranium dan pengayaan isotop uranium merupakan proses yang berbeda. Karena itu, angka 60 persen dalam ucapan Syaiful tidak dapat otomatis ditafsirkan sebagai kemampuan Indonesia memperkaya uranium-235 hingga kadar tersebut tanpa penjelasan teknis resmi dari BRIN.
Namun, jika angka 60 persen yang dimaksud merujuk pada tingkat pengayaan uranium-235, informasi tersebut memang sangat sensitif dalam rezim nonproliferasi nuklir internasional. Uranium dengan kadar U-235 sebesar 20 persen atau lebih dikategorikan sebagai highly enriched uranium atau HEU, sedangkan bahan bakar reaktor nuklir komersial umumnya hanya diperkaya sekitar 3–5 persen. Pengayaan hingga 60 persen karena itu berada jauh di atas tingkat yang lazim digunakan untuk PLTN komersial dan mendekati wilayah yang mendapat perhatian ketat dalam isu proliferasi.
Sensitivitas angka tersebut terlihat dalam polemik program nuklir Iran. Badan Energi Atom Internasional atau IAEA pernah mengonfirmasi pengayaan uranium Iran hingga kemurnian 60 persen, yang kemudian menjadi salah satu isu utama dalam ketegangan antara Teheran dan negara-negara Barat. Uranium tingkat senjata umumnya dikaitkan dengan pengayaan sekitar 90 persen, sehingga kadar 60 persen dipandang sebagai lompatan signifikan menuju tingkat tersebut apabila proses pengayaan dilanjutkan.
Indonesia sendiri selama ini mengarahkan pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk energi, pangan, kesehatan, dan riset. BRIN juga tengah menyiapkan ekosistem teknologi untuk rencana pemanfaatan PLTN dan small modular reactor atau SMR, termasuk melalui kerja sama internasional. Kepala ORTN BRIN sebelumnya menyebut bahan bakar untuk PLTN pertama Indonesia bahkan berpeluang dibeli dari luar sebelum produksi domestik dinilai ekonomis.
Karena itu, tindakan Prabowo menghentikan pemaparan melalui mikrofon belum dapat dijadikan bukti bahwa informasi yang hendak disampaikan berkaitan dengan program senjata nuklir. Presiden juga tidak terdengar menjelaskan alasan mikrofon harus dimatikan ketika kejadian berlangsung. Namun, keputusan melanjutkan pembicaraan secara tertutup menunjukkan bahwa bagian pemaparan tersebut dianggap tidak untuk disiarkan secara terbuka.
Kejelasan BRIN mengenai istilah “pemurnian uranium 60 persen” menjadi penting agar potongan video tersebut tidak berkembang menjadi spekulasi mengenai kemampuan nuklir Indonesia. Penjelasan perlu membedakan apakah angka tersebut berkaitan dengan tingkat kemurnian bahan, hasil proses pengolahan, atau pengayaan isotop uranium-235. Tanpa keterangan tersebut, yang dapat dipastikan baru satu hal: pemaparan terbuka berhenti tepat ketika pembicaraan mulai memasuki kemampuan teknis uranium yang lebih spesifik. (RHU)