JAKARTA, AFU.ID - Pasca ramainya berita pembangunan jalan swadaya oleh Hj Siti Srimulati, nama Bupati Kebumen, Lilis Nuryani tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, saat peresmian jalan sepanjang 2,5 kilometer dan jembatan yang didanai murni oleh Siti, Lilis tiba-tiba hadir untuk ikut meresmikan. Publik mempertanyakan hal itu lantaran, seharusnya pembangunan jalan dan jembatan itu menjadi kewajiban pemerintah.
Nyatanya, Siti membangun jalan dan dua jembatan yang menghubungkan warga Dukuh Grigak, Desa Plumbon dengan kawasan lahan pertanian masyarakat. Siti yang sudah berusia 72 tahun itu sampai harus menjual perhiasan emas miliknya untuk mendanai pembangunan itu.
Lilis sendiri melalui ihak Humas Pemkab Kebumen memberikan klarifikasi soal kehadirannya itu. "Perlu kami luruskan bahwa kehadiran Bupati Kebumen pada peresmian tersebut adalah memenuhi undangan Ibu Siti Sudar dan Pemerintah Desa Plumbon," ujarnya melalui akun Pemkab Kebumen.
Namun ternyata, persoalan tak selesai di situ, publik pun lantas membanding-bandingkan harta kekayaan Lilis dengan kondisi Kabupaten Kebumen. Dari berkas Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) tahun 2025 diketahui, Lilis memiliki kekayaan total mencapai Rp138,2 miliar, tanpa memiliki utang. Jumlah ini menjadikan perempuan kelahiran 16 April 1965 ini sebagai Bupati terkaya se-Jawa Tengah pada Pilkada 2024.
Status ini menjadi ironi karena Kabupaten Kebumen saat ini masih berstatus daerah termiskin kedua di Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik mencatat, pada tahun 2025 angka kemiskinan di Kabupaten Kebumen tercatat sebesar 13,58% dengan jumlah penduduk miskin mencapai 162.540 jiwa dari total penduduk 1.453.417 jiwa.
Indeks kedalaman kemiskinan (P1) mencapai 1,95 dan Indeks kedalaman kemiskinan (P2) mencapai 0,40. Indeks P1 menunjukkan, rata-rata pengeluaran penduduk miskin berjarak 1,95% di bawah garis kemiskinan. Jika standar kemiskinan di Kebumen sebesar Rp502.841 per kapita per bulan, maka pendapatan atau pengeluaran rata-rata masyarakat miskin di Kebumen hanya mencapai Rp493.034 per kapita per bulan.
Sementara pada indeks P2 menjelaskan tingkat keparahan atau kedalam kemiskinan di Kebumen mulai menipis. Artinya secara umum masyarakat miskin di Kebumen hampir mendekati garis batas sejahtera.
Terkait hal ini Kebumen memang mencapai prestasi lumayan dalam hal penurunan angka kemiskinan. Angka kemiskinan di Kabupaten Kebumen turun sebesar 2,13%. Capaian ini membuat Kebumen berhasil keluar dari predikat sebagai kabupaten termiskin di Jawa Tengah setelah tujuh tahun, menjadikannya wilayah dengan rekor kinerja penurunan kemiskinan tertinggi di Pulau Jawa.
Namun, dalam konteks infrastruktur, Kebumen masih tertinggal dibandingkan wilayah tengah/utara Jawa Tengah. Sekitar 74,27% jalan di Kebumen dalam kondisi mantap, menyisakan sekitar 25,73% (sekitar 261 kilometer) dalam kondisi rusak. Karena itulah ketika aksi swadaya Siti Srimulati mencuat, masyarakat kemudian ramai memperbincangkan masalah ini.
Menanggapi keluhan warga tersebut, Lilis memastikan, Pemkab Kebumen akan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 5,2 miliar untuk memperbaiki tiga ruas jalan kabupaten yang selama ini menjadi akses utama masyarakat setempat. Tiga ruas jalan itu adalah ruas Langse-Pujegan, Kalikudu-Plumbon, Wadasmalang-Sadang Kulon.
Lilis, mengatakan semangat gotong royong masyarakat yang ditunjukkan Siti Srimulati dan masyarakat Dukuh Grigak, Desa Plumbon, menjadi pemantik positif bagi pemerintah daerah untuk terus mempercepat pemerataan pembangunan. "Kami sangat menyambut baik bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semangat kebersamaan seperti inilah yang perlu terus kita pelihara," tegasnya.
MAR