JAKARTA, AFU.ID — Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah seiring masuknya periode awal musim kemarau pada pertengahan Juni 2026. Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga menjadi daerah yang lebih dulu terdampak dengan ratusan keluarga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Krisis air bersih tersebut mendorong pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bergerak cepat menyalurkan bantuan bagi warga terdampak. Pemantauan kondisi lapangan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan.
Di Kabupaten Banyumas, kekeringan terjadi di Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur dan Desa Taman Sari, Kecamatan Karanglewas. Total warga terdampak mencapai 567 kepala keluarga yang kini bergantung pada distribusi bantuan air bersih.
Pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengadaan tandon air darurat di tingkat rukun tetangga (RT) guna memperluas jangkauan distribusi.
Saat ini, Banyumas telah menyiagakan penampungan air berkapasitas 4.000 liter yang ditempatkan di tiga titik strategis. Lokasi tersebut ditentukan berdasarkan hasil asesmen lapangan yang dilakukan BPBD.
Sementara itu, kekeringan juga melanda kawasan perbukitan di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Desa Kutabawa dan Desa Serang menjadi wilayah yang paling terdampak akibat berkurangnya ketersediaan sumber air bersih.
Sedikitnya 102 kepala keluarga atau 398 jiwa di wilayah tersebut mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kondisi itu membuat warga bergantung pada bantuan pasokan air yang dikirim pemerintah daerah.
Merespons situasi tersebut, BPBD Purbalingga langsung mendistribusikan bantuan logistik awal berupa dua armada truk tangki. Total sebanyak 10.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Bantuan tersebut difokuskan untuk menyuplai kebutuhan domestik masyarakat di Dusun Gunung Malang yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Distribusi dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kebutuhan di lapangan.
“Memasuki awal musim kemarau ini, jajaran BPBD setempat terus melakukan pemantauan intensif dan berkoordinasi dengan lintas sektor untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar air bersih masyarakat dapat terpenuhi secara merata,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Sabtu (20/6/2026).
Ia menegaskan BPBD akan terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di wilayah terdampak serta menyesuaikan langkah penanganan sesuai situasi di lapangan. Upaya tersebut dilakukan agar pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat hingga musim kemarau berakhir. (ANT/RAI)