JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 14 kabupaten di Jawa Timur (Jatim) menetapkan status kedaruratan kekeringan seiring meningkatnya dampak musim kemarau. Dari jumlah tersebut, 11 kabupaten berstatus Siaga Darurat, sedangkan tiga daerah telah meningkatkan status menjadi Tanggap Darurat. Pemerintah Provinsi Jatim mengintensifkan penanganan dengan mendistribusikan air bersih dan menyiapkan dukungan logistik untuk wilayah terdampak.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, daerah yang menetapkan status kedaruratan meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, Blitar, Pasuruan, Trenggalek, Gresik, Malang, Jember, Sampang, Mojokerto, dan Situbondo. Dari 14 daerah tersebut, Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo telah berstatus Tanggap Darurat. Sementara 11 kabupaten lainnya masih berada pada status Siaga Darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan, status Tanggap Darurat diberikan karena kondisi di tiga wilayah tersebut membutuhkan penanganan yang lebih intensif. Menurutnya, distribusi air bersih saat ini telah difokuskan ke sejumlah titik terdampak di Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo. "Tanggap darurat kekeringan itu sudah masuk fase yang perlu penanganan," kata Gatot di Surabaya, Selasa (21/7/2026). Selain tiga daerah tersebut, distribusi air bersih juga dilakukan di Bondowoso, Bojonegoro, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Bangkalan, Jember, dan Tulungagung.
Gatot menjelaskan kebutuhan air bersih sementara dipenuhi melalui anggaran pemerintah kabupaten masing-masing maupun dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Ia menambahkan sejumlah pemerintah daerah juga telah mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada BPBD Jatim Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno menyebut hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 1.035.000 liter air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut didistribusikan melalui 207 rit mobil tangki yang menjangkau 42 kecamatan, 56 desa, dan 73 dusun. "Dropping air bersih terus kami lakukan sesuai kebutuhan di lapangan. Kami juga terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran," ujar Satriyo.
Untuk mengantisipasi puncak musim kemarau, BPBD Jatim menyiapkan anggaran sekitar Rp612 juta dengan estimasi 867 rit distribusi air bersih. Selain itu, disiapkan pula 50 unit tandon air, 100 tandon lipat, dan 9.600 lembar terpal sebagai bagian dari kesiapsiagaan logistik. BPBD juga menggelar rapat koordinasi bersama organisasi perangkat daerah (OPD) dan BPBD kabupaten/kota guna menyusun strategi penanganan kekeringan sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
BPBD Jatim menjelaskan kesiapan armada pendukung untuk mempercepat penanganan apabila dampak kekeringan semakin meluas. Fasilitas yang disiagakan meliputi mobil tangki air, kendaraan logistik, pompa air berkapasitas besar, hingga peralatan penerangan darurat. Gatot menegaskan pihaknya siap memenuhi permintaan distribusi air bersih dari daerah yang membutuhkan. "Kami siap mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Silakan melakukan pengajuan ke BPBD Jatim, kami akan cepat tanggap merespons dan mengirim bantuan," tutupnya. (RAI)