JAKARTA, AFU.ID — Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengakui adanya persoalan komunikasi yang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto. Hasan menyoroti bahwa informasi yang viral di masyarakat kerap bukan berasal dari sumber pertama, melainkan sudah melalui proses framing berkali-kali. "Informasi sekarang yang justru viral itu kan informasi sudah mungkin tangan kedua, tangan ketiga yang sudah diframing. Jadi semakin sering informasi yang membuat orang salah paham terhadap pejabat tertentu, maka persepsi terhadap pejabat tertentu itu akan kurang baik," ujarnya dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang disaksikan Afu.id, Rabu (12/8/2026).
Hasan menilai persoalan utama terletak pada minimnya keberanian pejabat publik untuk tampil menjelaskan program pemerintah. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak menteri yang takut tampil ke publik karena khawatir salah bicara atau menjadi sasaran bully di media sosial. "Sebagai pejabat publik, dibully itu risiko," tegasnya. Hasan juga menyebut Sekretaris Kabinet sudah berulang kali mengarahkan para menteri untuk lebih rajin muncul di publik, termasuk melalui podcast, namun sebagian masih ragu. Ia menambahkan, ketakutan itu wajar karena di era media sosial, serangan bisa datang dari mana saja, termasuk dari akun robot.
Menurut Hasan, ada kalanya pejabat yang bekerja dengan baik justru kesulitan menyampaikan kinerjanya secara efektif. "Orang yang kerjanya jago kadang-kadang ketika menyampaikan sesuatu tidak selalu bisa diterima oleh orang. Terlalu blak-blakan mungkin," katanya. Namun ia menekankan bahwa selama tidak ada niat buruk, pejabat tidak perlu takut disalahpahami. "Yang paling susah dijelaskan tuh kalau kita punya bad intention. Tapi selama kita enggak punya bad intention, orang mau salah paham sama kita, kita dengan percaya diri kita bisa ngomong."
Di sisi lain, Hasan mengingatkan publik agar lebih kritis terhadap informasi yang dikonsumsi. Ia menyampaikan kekhawatirannya bahwa masyarakat saat ini mulai "terjajah oleh algoritma" yang terus menyajikan informasi bias dari tangan kedua atau ketiga. "Saya khawatir kita itu sudah jadi terjajah oleh algoritma. Apakah informasi yang kita saksikan itu informasi tangan pertama, ataukah informasi yang sudah bias tangan kedua, tangan ketiga yang penuh framing?" ujarnya. Karena itu, ia mendorong semua pihak untuk membiasakan diri mencari klarifikasi dari sumber resmi pertama, agar tidak terjebak dalam narasi yang sudah dimanipulasi. (EER)
Saksikan episode lengkap perbicangan dengan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbihanya di podcast Akbar Faizal Uncensored.