Jakarta, AFU.ID - Beberapa hari belakangan warganet dikejutkan dengan munculnya fenomena pulau sampah yang mengambang di bibir pantai Jakarta. Sampah itu terlihat seperti gugusan pulau, yang paling besar, lebih lebar dari lapangan padel.
Sampah yang mengambang berpuluh ton itu sebagian besar merupakan limbah plastik yang sulit terurai. Pakar menyebut, keberadaanya merupakan ancaman serius bagi ekosistem laut, terutama mangrove.
Pulau sampah itu hanya berjarak 700 meter dari daratan Muara Angke, sebuah permukiman padat penduduk di Jakarta Utara yang masyarakatnya masih banyak yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan munculnya pulau sampah itu karena sedimentasi. Telah dilakukan upaya pembersihan, ditargetkan rampung Sabtu.
"Di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi, sudah tiga hari ini kita lakukan pengerukan," katanya, di Balai Kota Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Pakar Pencemaran dan Toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Etty Rian menjelaskan, komposisi sampah di kawasan tersebut didominasi oleh plastik, baik makroplastik maupun mikroplastik.
“Jenis yang banyak ditemukan antara lain kantong plastik, botol plastik, kemasan makanan dan minuman, styrofoam, bekas jaring, serta sampah rumah tangga,” ujarnya, Jumat (5/6), seperti dikutip dari website IPB.
Keberadaan sampah plastik mengganggu fungsi ekologis mangrove. Plastik yang bersifat kedap dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove sehingga menghambat pertukaran oksigen.
Selain itu, plastik yang menutupi sedimen berpotensi mengubah karakteristik fisik, kimia, dan biologis sedimen serta menghambat regenerasi bibit mangrove.
Kualitas perairan juga terganggu. Sampah plastik dapat menurunkan kelarutan oksigen (DO), meningkatkan potensi terbentuknya gas beracun seperti amonia, H₂S, dan nitrit, serta meningkatkan kandungan mikroplastik, nanoplastik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) di lingkungan perairan.
“Mikroplastik dan nanoplastik sangat berisiko masuk ke rantai makanan,” tegasnya.
Organisme penyaring seperti kerang dan tiram rentan mengakumulasi partikel tersebut dalam jumlah signifikan. Mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, dan senyawa organik persisten yang berbahaya bagi ekosistem.
Solusi Jangka Panjang
Prof Etty menjelaskan, persoalan sampah di Muara Angke tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Jakarta. Sampah yang menumpuk di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai wilayah hulu.
Solusinya harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Edukasi masyarakat perlu dilakukan secara konsisten, disertai penguatan sistem pengelolaan sampah, pengawasan lintas daerah, pengurangan plastik sekali pakai, pengembangan bank sampah, TPS 3R, Material Recovery Facility (MRF), daur ulang, RDF, hingga Waste to Energy yang memenuhi standar lingkungan.
“Paling penting adalah menghentikan aliran sampah dari sungai ke laut. Karena jika sumber tidak dihentikan, pembersihan di Muara Angke hanya akan bersifat sementara,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang, bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh.
Upaya Pemprov DKI Jakarta
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris, mengatakan hingga Jumat, progres penanganan pulau sampah itu telah mencapai 85-90 persen.
“Pembersihan terus dipercepat agar seluruh tumpukan sampah di Muara Angke bisa ditangani pada akhir pekan ini,” kata Afan.
Pemprov DKI mengerahkan 100 petugas lapangan, dua ekskavator amfibi, serta tiga kapal pengangkut sampah. Petugas bekerja untuk mempercepat pengangkutan dan pengolahan sampah di lokasi.
Setelah upaya itu dilakukan, DLH akan melakukan pengawasan dan inspeksi rutin untuk mencegah penumpukan sampah kembali.
Afan menilai, salah satu kendala penanganan sampah di kawasan pesisir ialah kiriman sampah dari wilayah hulu yang terbawa aliran air menuju muara. Karena itu, pengendalian sampah juga dilakukan dari wilayah hulu melalui pengoperasian sekat dan saringan sampah agar tidak terus mengalir ke kawasan pesisir.
Afan mengimbau masyarakat tidak membuang sampah ke saluran air, kali, waduk, situ, embung, maupun badan air lain. Pasalnya, perilaku tersebut dapat mencemari lingkungan dan meningkatkan risiko banjir.
“Menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah agar lingkungan tetap bersih, sehat, dan terhindar dari berbagai dampak negatif, termasuk banjir,” ujar dia.
Sampah yang telah membentuk gugusan pulau di bibir Jakarta itu tidak terjadi dalam semalam. Jika itu sampah kiriman dari hulu, mengapa DHL Jakarta bisa kecolongan sehingga jumlahnya menumpuk sebanyak itu. (EER)