JAKARTA, AFU.ID - Urusan PKB dengan PBNU selalu ruwet. Selalu dinamis, kadang mesrah, tetapi sering berseberangan dalam banyak keputusan strategis. Banyak orang menyangka, PKB itu partainya NU. Faktanya, tidak sesederhana itu.
PKB memang dilahirkan lewat rahim NU. Pengurusnya mayoritas orang NU, aktivitasnya kebanyakan di lingkungan NU, pemilihnya pun mayoritas adalah Nahdiyin. Tetapi mengapa dua organisasi ini selalu terlihat panas dingin?
Belakangan ini, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) melontarkan kritik terhadap Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyebut kepemimpinan di bahterah NU telah gagal dan harus dihentikan.
Orang menyebut itu sebuah bentuk kritik tajam dari orang luar. Karena Cak Imin ini bukan pengurus. Karenanya, itu adalah tindakan “cawe-cawe” atau ikut campur urusan orang lain.
Dia menolak disebut cawe-cawe, karena merasa dirinya tidak punya kewenangan. Ini sudah sejalan dengan gagasan Gus Yahya bahwa PKB dan PBNU itu dua hal yang berbeda, tidak bisa disamakan. Gus Yahya ingin NU lepas dari hiruk-pikuk politik praktis.
“Saya enggak cawe-cawe. Saya enggak punya kewenangan dan hak apa pun,” katanya di podcast Akbar Faizan Uncensored, Senin (28/4/2026).
Kritik soal gagalnya kepengurusan NU saat itu, menurut Cak Imin setelah mendengar berbagai masukan dari banyak orang tentang kepengurusan Gus Yahya. Termasuk saran dari para kiai untuk ikut membenahi NU.
“Kiai-kiai itu bilang, setidaknya PKB atau kamu itu membantu dong. NU ini ada masalah, kenapa diam?” ucap Muhaimin.
Atas dasar itu, dirinya tergerak untuk memberikan masukan.
Dia memandang, kepengurusan NU sekarang banyak terjadi konflik internal sehingga melupakan esensi organisasi yang seharusnya berfokus pada urusan keumatan, termasuk pendidikan, kesejahteraan, dan dakwah.
Pengurus PBNU disebut oleh dia sudah mendapatkan berbagai kemudahan akses. Tetapi Cak Imin memandang manfaatnya kurang dapat dirasakan oleh masyarakat bawah. Padahal, pemerintah bersedia bersinergi dengan NU.
“Pemerintah, Pak Prabowo, Pak Jokowi juga kurang apa. NU minta apa? Selalu dikasih kok,” tegasnya. (EER)