AFU.id

Heboh Beredar Rekaman Dugaan Skandal Pemanggilan Pengurus PC NU oleh Salah Satu Timses Kandidat di Sumsel dan Stempel Palsu Dukungan, Menjelang Muktamar NU ke-35

Bagikan:

Penulis: Agung Riyadi

Ringkasan Berita

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, beredar rekaman video yang menuduh adanya skandal pemanggilan pengurus PC NU dan pemalsuan stempel dukungan di Sumatera Selatan. Dalam video tersebut, seorang pria mengungkapkan dugaan kecurangan terstruktur yang melibatkan pemesanan kamar hotel untuk peserta muktamar, di mana beberapa kamar dialokasikan untuk pihak yang tidak berhak dan ditemukan stempel palsu. Meskipun video ini telah viral dan memicu perdebatan di kalangan warga nahdliyyin, belum ada klarifikasi resmi dari panitia atau Pengurus Besar NU mengenai tuduhan tersebut.

Heboh Beredar Rekaman Dugaan Skandal Pemanggilan Pengurus PC NU oleh Salah Satu Timses Kandidat di Sumsel dan Stempel Palsu Dukungan, Menjelang Muktamar NU ke-35
Ilustrasi suasana Muktamar Nahdlatul Ulama (ANTARA)

Sentimen Berita

75% sumber condong ke kiri

Kiri75%
Suara
SINDOnews
Media Indonesia
Netral25%
Kumparan
Kanan0%

Assalamu’alaikum Kiai, .. hasil dari Palembang pertemuan malam ini para Rais dan Katib di Palembang niku nyewane hotel teng Santika (itu sewa hotelnya di Santika-red), nginepe teng Santika (nginepnya di Santika). Dipun pindah pertemuannya di Hotel Arista. Teng iko niku, usulan AHWA yang dari Gus Ipul kan sudah di-print masing-masing, sudah dicetak masing-masing.

Dan mekanisme niku dipanggil satu-satu ke sebuah kamar. Di situ sudah ada Ketua PW Sumsel Pak Kiai Hendra, kalian dua orang timnya Kiai Miftah, timnya Gus Ipul, kadose menggah kulo niku kok Sulaiman Tanjung (Sepertinya menurut saya (orang) itu adalah Sulaiman Tanjung). Nah di sana itu begini Pak, jadi surat yang sudah dicetak itu tadi, yang sudah diedarkan itu tadi, selain ditandatangani Rais dan Katib, itu distempel.

Nah tadi ada beberapa wilayah sing mboten beto stempel (yang tidak ada stempel), memang enggak punya stempel, stempel niku sing beto Tanfidz. Akhire niku diadakan atau dibuatkan stempel dadakan. Dadose nggih dalu niki didamelke stempel (jadinya malam ini dibuatkan stempel). Lah ini kan tiga lembar, jadi yang satu lembar dibawa timses, yang satu lembar dibawa PW, yang satu lembar niki dibawa PC yang nantinya itu mau dimasukkan di penyetoran atau pendaftaran AHWA tersebut. Ngoten Mbah (seperti itu Mbah).

Dadose nikilah niki yang terjadi di Sumsel (jadi inilah, ini yang terjadi di Sumsel), lah mungkin di tempat-tempat yang lain sistemnya mungkin seperti ini. Jadi harus ada stempel, ketika tidak ada stempel dibuatkan stempel, ngoten. Lah niki dadose kadose niku (lah ini jadinya kelihatannya) satu-satunya cara dalam penggodokan tatib penyerahan AHWA niki kedah (ini harus) diperketat.

Ada satu celah wau sing kulo tangkletaken (yang tadi mau saya tanyakan), ini nyuwun sewu mohon maaf tanya ini bermasalah gak masalah tanggal? Tanggalnya Sumsel kan 13 Agustus, otomatis merekomendasikan usulan AHWA kan tanggal 13 ini atau tanggal 12 kemarin, sementara pelaksanaan penyerahan AHWA kan tasik mengke (masih nati) tanggal 26. Lah niki kira-kira saget no mboten ngupokoro (Nah ini kira-kira bisa atau tidak untuk dipersoalkan) batas akhir atau batas tanggal usulan AHWA dari masing-masing PC se-Indonesia.

Yang kedua, penyetempelan nama AHWA, surat AHWA usulan AHWA niki stempele kan pun stempel sedanten ya teng Sumsel sakniki (ini stempelnya kan sudah distempel semua ya di Sumsel sekarang). Niki malam ini dan terus disanjangi kalih tim wau (diberitahu oleh tim tadi), Sulaiman Tanjung wau, "Ini nanti yang Anda serahkan di sana kertas yang ini, meskipun ada usulan, ada iming-iming dari yang lain, yang ini yang sampean yang sudah kami stempel ini, yang sudah kami bawa ini". Ya niku.

Jadine godoke niku mengke kadose (jadinya pembahasannya -tata tertibnya- nanti kelihatannya) dan tanda tangan harus tanda tangan ulang atau tanda tangan basah di tempat menawi saget (jika bisa). Niku cobi di mekanisme niku dipun komunikasikan kalian tim-tim lintune, tim pesantren (itu coba pada mekanisme tersebut dikomunikasikan dengan tim-tim lainnya, tim pesantren).

Lha niki wau namung anu kok, namung dugi terus wawancara. Wawancarane mboten seluruh (Nah ini tadi cuma anu kok, cuma datang lalu diwawancarai. Wawancaranya tidak dilakukan secara semuanya), masing-masing PC dipanggili satu-satu teng kamar kalih Sulaiman Tanjung, kadose niku nek nok modele awake kok Sulaiman Tanjung, ngoten Mbah ceritane niki Mbah (Sepertinya itu kalau dari bentuk perawakannya kok Sulaiman Tanjung, begitu Mbah ceritanya ini, Mbah).

Akhire kranten kulo nggih namung keramat gandul, nggih kulo nggih tangklet Abror. Kulo telepon Abror pripuna, "Hel, mboten?" Terus Abror, "Lah liane distempel apa ora?" (Akhirnya karena saya ini juga hanya pihak yang sekadar ikut-ikutan (tidak punya wewenang), ya saya bertanya ke Abror. Saya telepon Abror bagaimana, 'Hel, enggak (distempel)?' Terus Abror jawab, 'Lah yang lainnya distempel atau tidak?) Meskipun tidak distempel, niki dibuatkan stempel Mbah. Akhire nggih mboten saget pripon-pripon, nggih derek mawon (akhirnya ya tidak bisa apa-apa (tidak bisa berbuat banyak), ya ikut saja).

Nah terus ngobrol kalih Abah Luk, Kiai Mas Arrodi. Niku beliau menanyakan, "Ini apa para kiai dalam hati nuraninya punya pilihan, sementara ini di antaranya ada beberapa yang bukan menjadi pilihan kami," kan ngoten. Terus, "Ini bentuk riswah apa bukan?" ngoten.

Terus sanjange Ki Luk niku bisa jawab, "Ini usulan kami Pak Kiai, dan ini uang ini bukan sogokan atau bukan riswah, ini sebatas tanda terima kasih kami telah menerima usulan, dan ini silakan digunakan untuk transportasi Syuriyah, cuman harapan kami suratnya yang disetorkan ya seperti ini," ngoten. Dawuh sanjange Abah ngoten informasinipun malam ini Pak. Abah, matur suwun, pangapura kuatah, kulo namung dherek dawuh mawon (Begitulah penjelasan/arahan dari Abah informasinya malam ini, Pak. Abah, terima kasih, mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya hanya mengikuti arahan/petunjuk saja). Assalamu’alaikum.

Dari keterangan suara di video itu diketahui, seseorang yang disebut mirip Sulaiman Tanjung, bertindak sebagai bagian dari tim sukses yang memanggil perwakilan Rais dan Katib PCNU satu per satu ke kamar hotel di Palembang untuk mengondisikan dokumen usulan Ahwa (Ahlul Halli wal Aqdi). Untuk diketahui, Sulaiman Tanjung adalah orang kepercayaan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Dari rekaman itu diketahui, ia membagikan formulir usulan yang telah dicetak dan menentukan nama-nama di dalamnya, memfasilitasi pembuatan stempel dadakan bagi pengurus yang tidak membawa stempel resmi. Sososk tersebut juga menyimpan lembaran dokumen tersebut untuk memastikan pilihan tidak berubah, menyerahkan sejumlah uang yang diklaim sebagai "biaya transportasi", serta memberikan penegasan agar berkas yang telah dibubuhi stempel itulah yang wajib disetorkan pada pendaftaran resmi Muktamar.

Karena itulah dugaan pemalsuan stempel dan pengambilalihan hak fasilitas peserta muktamar ini dinilai sebagai upaya manipulasi yang mencoreng marwah organisasi menjelang perhelatan tertinggi NU. Meski video pengakuan tersebut telah beredar luas dan memicu polemik di media sosial, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi atau respons klarifikasi dari pihak Panitia Muktamar ke-35 NU maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menanggapi kebenaran tuduhan yang disampaikan dalam video viral tersebut. (MAR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi