JAKARTA, AFU.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan bombardir Oman jika menghalangi proses negosiasi dengan Iran terkait Selat Hormuz. Trump juga menyebut Washington telah lama mengupayakan negosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). "Jika Oman menghalangi, kami akan bom mereka sampai habis," kata Trump kepada Fox News, Senin, menjawab pertanyaan wartawan tentang perkembangan negosiasi dengan Iran terkait Selat Hormuz.
Pernyataan Trump tersebut menanggapi klaim Iran yang menyatakan telah menjalin kesepakatan dengan Oman terkait rute pelayanan di Selat Hormuz. Kesepakatan itu dicapai setelah sejumlah negosiasi dijalan Iran dengan Oman. Lebih lanjut, Trump menyebut seharusnya Teheran menyerah dengan AS. Ia berkata, Iran adalah "pemain poker yang baik, tetapi mereka sekarat".
Trump juga mengklaim sudah ada hubungan langsung terjalin antara Washington dengan IRGC, makanya dia tidak ingin ada Oman dalam urusan Hormuz. "Kami punya saluran belakang dengan IRGC. Kami berbicara secara langsung dengan pejabat IRGC di Iran," kata dia. Selain itu, Trump juga menyinggung kondisi di Gaza. Lagi-lagi, dia mengeklaim bahwa Hamas telah sepakat untuk meletakkan senjata, untuk itu dirinya minta agar Israel harus berhenti menyerang.
Ia juga mengatakan bahwa AS memiliki saluran komunikasi terpisah dengan Hamas. "Kami punya saluran berbeda dengan Hamas, dan pada akhirnya mereka akan menyerahkan senjatanya," kata dia. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya Washington memastikan implementasi rencana perdamaian Gaza yang mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan penuh pasukan zionis Israel dari wilayah Palestina itu.
Trump turut menyampaikan pendapatnya terkait politik Israel dengan mengatakan bahwa langkah yang "paling tepat" saat ini adalah untuk tidak ikut campur dalam pemilu di negara itu. Namun, ia masih membuka peluang untuk mendukung calon tertentu. "Saya pikir yang paling tepat bagi saya adalah tetap di luar politik pemilu Israel, tetapi saya mungkin akan mendukung calon tertentu," kata Presiden AS itu. (EER)