JAKARTA, AFU.ID - Percakapan panjang tentang agama, politik, dan masa depan peradaban kembali mengemuka dalam kanal Akbar Faizal Uncensored. Dalam dialog yang berlangsung lebih dari satu jam, mantan legislator sekaligus host Akbar Faizal berbincang dengan pendakwah Felix Siauw mengenai gagasan khilafah, kondisi dunia Islam, hingga masa depan Indonesia.
Diskusi itu bermula dari pertanyaan Akbar Faizal yang penasaran mengapa gagasan khilafah masih hidup di benak sebagian kalangan, termasuk Felix Siauw. Felix menjawab bahwa ide tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Ia melihat sistem global saat ini perlahan menunjukkan keterbatasannya dalam menopang peradaban manusia.
Menurut Felix, sejak awal Islam hadir sebagai respons terhadap problem sosial manusia. Pada tingkat individu, Islam memberikan pedoman hidup. Pada tingkat komunitas, ia menyediakan sistem yang mengatur hubungan sosial. Sementara pada tingkat peradaban, menurutnya, Islam pernah menunjukkan model tata kelola dunia yang relatif stabil selama berabad-abad.
Ia menyinggung sejarah kekuasaan Islam yang berlangsung dari abad ke-7 hingga awal abad ke-18, termasuk periode panjang Kekhalifahan Utsmaniyah. Felix menyebut perubahan besar mulai terjadi sejak reformasi administratif yang dikenal sebagai Tanzimat, yang memperkenalkan banyak sistem hukum dan institusi Barat ke dalam pemerintahan Utsmani.
Menurutnya, sejak periode itu sekularisasi perlahan masuk ke dalam sistem politik dunia Islam. Ia menilai perubahan tersebut menjauhkan praktik pemerintahan dari prinsip-prinsip yang sebelumnya menjadi fondasi peradaban Islam.
Felix juga menyinggung sosok Abdul Hamid II, sultan terakhir yang berusaha menghidupkan kembali gagasan pan-Islamisme. Ia mengklaim Abdul Hamid pernah berhasil mengurangi sebagian besar utang negara dalam waktu relatif singkat melalui pendekatan politik yang terpusat.
Meski demikian, Felix mengaku tidak tergesa-gesa menyerukan khilafah. Ia justru menilai persoalan utama umat Islam saat ini berada pada kualitas pemikiran. Tanpa tradisi berpikir yang kuat, kata dia, wacana tentang sistem politik apa pun akan kehilangan fondasi.
Dalam pandangannya, kebangkitan peradaban Islam tidak cukup hanya dengan slogan politik. Ia menyebut perlunya melahirkan kembali tradisi intelektual yang pernah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Al-Khwarizmi, hingga Al-Biruni.
Akbar Faizal sendiri merespons dengan sudut pandang berbeda. Ia berpendapat bahwa sebelum berbicara tentang sistem politik global seperti khilafah, umat Islam perlu memperbaiki kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, dan ilmu pengetahuan.
Menurut Akbar, peradaban modern ditentukan oleh penguasaan sains, teknologi, dan riset. Tanpa itu, gagasan besar tentang sistem politik hanya akan menjadi wacana tanpa kekuatan nyata.
Felix mengakui pandangan tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah pertama menuju perubahan memang harus dimulai dari pemikiran. Baginya, semua transformasi sosial lahir dari ide dan cara berpikir yang matang.
Menariknya, dalam diskusi itu Felix juga menepis anggapan bahwa gagasan khilafah otomatis bertentangan dengan keberadaan negara seperti Indonesia. Ia menilai khilafah lebih sebagai konsep tata kelola ketimbang batas geografis negara.
Felix bahkan menyatakan dirinya mencintai Indonesia dan menganggap negeri ini sebagai tempat yang sangat nyaman untuk berdakwah. Ia melihat Indonesia sebagai ruang terbuka bagi dialog, termasuk dialog yang mungkin berbeda pandangan.
Di akhir percakapan, Akbar Faizal menegaskan pentingnya tradisi diskusi terbuka. Ia mengakui tidak semua pandangan Felix ia setujui. Namun baginya, perbedaan gagasan tidak boleh menghentikan percakapan di ruang publik.
“Berbeda tidak harus membenci,” ujar Akbar menutup dialog.
Percakapan itu menunjukkan bahwa perdebatan tentang agama, politik, dan masa depan peradaban masih menjadi topik yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia. Dan di ruang diskusi yang sehat, perbedaan justru menjadi bahan bakar bagi lahirnya pemikiran baru. (bs)