JAKARTA, AFU.ID - Percakapan di kanal Akbar Faizal Uncensored berubah dari santai menjadi tajam ketika Muhaimin Iskandar—atau akrab disapa Cak Imin—mulai membuka lapisan terdalam dinamika partainya dan relasinya dengan Nahdlatul Ulama (NU). Di hadapan host Akbar Faizal, ia tidak sekadar bicara soal capaian politik, tetapi juga mengakui sisi rapuh yang selama ini jarang diungkap ke publik.
Isu regenerasi menjadi pintu masuk. Ketika disinggung soal minimnya figur penantang di tubuh PKB, Cak Imin tidak menampik adanya “realitas subjektif dan objektif.” Ia menyebut, secara objektif regenerasi memang harus berjalan, tetapi secara subjektif, ada trauma kolektif yang masih membekas sejak konflik internal masa lalu. Tahun 2009 bahkan ia sebut sebagai “aib” akibat kompetisi yang terlalu keras. Sejak itu, ruang kontestasi internal seperti kehilangan keberanian—bukan karena tidak ada kader, tetapi karena bayang-bayang konflik yang pernah menjatuhkan partai.
Kritik kemudian melebar ke tubuh NU. Cak Imin membedakan dengan tegas antara NU kultural dan struktural. Menurutnya, NU kultural tetap hidup—tradisi tahlilan, qunut, hingga jejaring pesantren berjalan tanpa hambatan. Namun, ia menilai kepemimpinan struktural hari ini gagal mengikuti denyut kultur tersebut. Akibatnya, organisasi berjalan timpang: kultur kuat, tetapi struktur lemah dalam mengelola pendidikan, ekonomi umat, dan institusi strategis.
Ia bahkan melontarkan kritik paling keras pada cara pengelolaan internal: praktik voting dalam pemilihan pengurus. Baginya, sistem itu justru melahirkan masalah baru. “Yang terpilih belum tentu yang terbaik,” ujarnya, seraya mendorong kembali ke mekanisme musyawarah sebagai ciri khas NU. Dalam pandangannya, kompetisi internal yang terlalu politis hanya akan memperlemah organisasi ulama yang seharusnya berorientasi pengabdian.
Di sisi lain, Cak Imin juga menepis anggapan bahwa dirinya “cawe-cawe” dalam urusan NU. Ia menegaskan posisinya hanya sebatas warga yang memberi kritik, bahkan mengaku didorong para kiai sepuh untuk tidak diam melihat persoalan internal. Kritik, katanya, adalah bentuk kepedulian, bukan intervensi.
Menariknya, percakapan yang semula berkutat pada NU dan PKB berujung pada horizon politik nasional. Tanpa ragu, Cak Imin menyebut peluang Prabowo Subianto pada Pilpres 2029. Ia menilai Prabowo hampir pasti kembali maju dan memiliki peluang besar untuk menang sebagai petahana. Sikap PKB? “Kita ikut yang menang,” ujarnya lugas—sebuah pernyataan yang sekaligus menunjukkan arah pragmatis sekaligus kalkulatif dalam membaca peta kekuasaan ke depan.
Dari perbincangan ini, satu hal menjadi terang: di balik stabilitas yang tampak di permukaan, politik Indonesia tetap menyimpan dinamika internal yang kompleks—diwarnai trauma masa lalu, tarik-menarik kepentingan, hingga strategi bertahan menuju masa depan. AFU kali ini bukan sekadar wawancara, melainkan potret jujur tentang bagaimana kekuasaan dirawat, dikritik, dan dinegosiasikan dari dalam. (*)