JAKARTA, AFU.ID – Demokrasi digital di Indonesia seolah mulai terjebak dalam politik emosi. Percakapan publik di dunia maya tak lagi mengedepankan kekuatan argumen, tapi diatur algoritma, viralitas, dan resonansi emosional.
Penulis buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’, Andi Ilham Paulangi, menyatakan ruang publik telah mengalami transformasi besar seiring berkembangnya teknologi digital. Dari yang sebelumnya banyak dimediasi oleh media konvensional, kini terus bergeser ke ruang digital, terutama media sosial (medsos).
Andi Ilham Paulangi menyampaikannya dalam Roadshow dan Launching Buku barunya tersebut di Auditorium Andi Hakim Nasution Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan yang digelar Nagara Institute dan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI) itu berlangsung pada Rabu (17/6/2026).
“Buku ini mencoba memotret bagaimana demokrasi berkembang atau berubah di era digital saat ini,” ungkapnya.
Andi Ilham Paulangi menjelaskan, karya ilmiahnya tersebut menyoroti lima isu krusial yang sedang berkembang dalam ruang digital Indonesia. Kelimanya adalah transformasi ruang publik, algoritma dan politik emosi, partisipasi publik digital, risiko demokrasi digital, serta masa depan demokrasi digital.
Ia menilai, ruang digital membuat setiap orang dapat menjadi komunikator massa. Warga biasa, komunitas sipil, hingga figur publik, telah menjangkau audiens luas dan terlibat langsung dalam percakapan politik.
Akan tetapi, perubahan masif dalam ruang digital tersebut juga membawa tantangan baru. Andi Ilham Paulangi memandang, percakapan publik di medsos tak selalu bergerak secara rasional. Penyebabnya adalah pengaruh visibilitas, emosi, dan cara kerja algoritma suatu platform.
“Di ruang digital, isu tidak hanya bersaing melalui argumen, tetapi juga melalui visibilitas dan resonansi emosional,” tuturnya.
Karena itu, Andi Ilham Paulangi mendorong transparansi algoritma sebagai salah satu faktor penting dalam membangun demokrasi digital yang sehat. Menurutnya, publik perlu memahami bagaimana platform bekerja dalam menentukan isu yang muncul, menyebar, dan menjadi perhatian luas.
Ia mengatakan, demokrasi digital membuka ruang partisipasi publik yang jauh lebih luas. Medsos memungkinkan munculnya aktor-aktor baru dalam politik, termasuk warga biasa dan komunitas sipil.
Di sisi lain, partisipasi yang luas tak cukup apabila gagal terhubung dengan proses kebijakan publik. Tanpa kanal yang jelas, ruang digital berpotensi hanya menjadi tempat perdebatan emosional yang tak menghasilkan keputusan publik.
“Demokrasi digital membuka ruang partisipasi publik yang luas, tetapi masa depannya bergantung pada bagaimana teknologi, warga, dan institusi politik membentuk ruang publik yang lebih demokratis dan sehat,” ujar Andi Ilham Paulangi.
Penulis buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ ini lantas menegaskan, literasi digital warga juga harus mendapat penguatan. Selain itu, institusi politik wajib membangun mekanisme yang mampu menghubungkan aspirasi digital dengan proses pengambilan kebijakan.
Ia kemudian menyinggung praktik inovasi demokrasi digital di sejumlah negara. Contohnya, Taiwan dan Barcelona yang telah mengembangkan platform partisipasi publik untuk menampung aspirasi warga secara lebih terstruktur.
Baginya, model seperti itu memungkinkan ruang digital menjadi bagian dari proses kebijakan, mulai dari input, proses, hingga output. Dengan demikian, aspirasi masyarakat tak berhenti sebagai perdebatan kusir di medsos.
“Saya kira, Indonesia juga bisa mengembangkan platform democratic innovation, tentu sesuai dengan kebutuhan pemerintah kita,” paparnya.
Andi Ilham Paulangi menekankan, tantangan utama dalam membangun demokrasi digital adalah kesiapan pemerintah menerima kritik. Yang mana, hal itu juga harus sejalan dengan kemampuan publik dalam menyampaikan aspirasi secara rasional.
“Kalau pemerintah mampu membuat platform seperti itu, saya kira ke depan kita bisa mengeliminasi perdebatan-perdebatan emosional di internet,” pungkasnya. (FAD)