AFU.id

Ilusi Algoritma Ancam Demokrasi, Kualitas Ruang Digital Jadi Pertaruhan

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Kualitas ruang digital kini terancam memburuk akibat maraknya penyebaran informasi palsu, tanpa konteks selama aksi demonstrasi warga.Fenomena itu semakin parah oleh ilusi algoritma, sebuah kondisi ketika media sosial (medsos) menjebak pengguna dalam sudut pandang tunggal yang bias akibat pola interaksi masa lalu.

Ilusi Algoritma Ancam Demokrasi, Kualitas Ruang Digital Jadi Pertaruhan
Menkomdigi RI, Meutya Hafid. (Foto: Kementerian Komdigi RI)

Bahaya Ilusi Algoritma Terhadap Kualitas Ruang Digital

Menkomdigi Meutya juga menyarankan massa aksi untuk menahan diri dari tindakan mengunggah konten provokatif yang belum terverifikasi keabsahannya. Menurutnya, langkah proaktif itu sangat krusial demi memelihara stabilitas keamanan serta menjaga kualitas ruang digital nasional.

Masyarakat perlu memahami cara kerja teknologi linimasa yang sering kali memanipulasi persepsi dan emosi pengguna. Konten yang muncul secara berulang cenderung mengaburkan fakta objektif di lapangan demi mengejar interaksi digital.

Distorsi informasi tersebut memicu kemarahan kolektif yang semu di kalangan pengguna jejaring sosial. Terkait fenomena bias informasi ini, Meutya Hafid menjelaskan, “Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan.”

“Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta, padahal belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi,” sambung Meutya Hafid.

Ia mengingatkan, publik harus meningkatkan kewaspadaan terhadap persebaran video hasil manipulasi digital yang berpotensi memecah belah bangsa. Penyebaran potongan informasi tanpa konteks yang utuh jamak terjadi untuk memperkeruh situasi politik tanah air.

Kementerian Komdigi RI juga berkomitmen memperketat pengawasan demi mengikis ruang gerak bagi para produsen hoaks transnasional. Langkah penertiban itu mendesak demi memastikan kualitas ruang digital tetap sehat dan bebas dari hasutan kekerasan.

Meutya Hafid menutup keterangan persnya dengan seruan moral yang tegas kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. “Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi, perbedaan pendapat adalah hal di dalam demokrasi,” ujarnya. 

“Tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Edukasi literasi digital harus berjalan beriringan dengan jaminan kebebasan berpendapat. Pemerintah juga tak boleh menggunakan dalih ketertiban siber untuk membungkam kritik publik yang sah terhadap kebijakan. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi