AFU.id

Bedah Buku Demokrasi Digital, Anatomi Gerakan Massa dan Tirani Atensi Lini Masa

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pergeseran aktivitas demokrasi dari jalanan konvensional menuju layar gawai pintar melahirkan fenomena politik baru di Indonesia.Ruang siber kini menjadi tempat utama bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut keadilan sosial.Buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ tulisan Andi Ilham Paulangi, membongkar anatomi gerakan massa siber tersebut melalui enam bagian awal yang sangat mendalam.Karya literatur setebal 304 halaman ini menjelaskan perubahan pola partisipasi politik warga secara terperinci.

Bedah Buku Demokrasi Digital, Anatomi Gerakan Massa dan Tirani Atensi Lini Masa
Cover belakang buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ karya Andi Ilham Paulangi yang diterbitkan oleh Nagara Institute. (Foto: AFU.ID)

Perang Perebutan Atensi Publik

Buku cetakan pertama ini merinci 34 bab awal untuk membedah kuasa emosi lini masa. Pembaca dapat mempelajari bagaimana sebuah isu lokal bisa bertransformasi menjadi gerakan nasional berkat bantuan jaringan internet.

Andi Ilham Paulangi menjabarkan tipologi petisi digital secara mendalam untuk membantu pembaca memahami dinamika pertarungan opini publik siber. Setiap bagian dalam bukunya menyajikan data empiris yang membongkar taktik para pembuat narasi siber dalam memengaruhi kebijakan negara.

Karya terbitan Nagara Institute dengan nomor ISBN resmi 987-967-8519-93-8 ini juga menawarkan pisau analisis sosiologi kontemporer. Andi Ilham Paulangi menggunakan pemikiran Jurgen Habermas untuk menguji kesepahaman publik di tengah badai perbedaan pendapat.

Buku berukuran 14 x 21 sentimeter ini bahkan mengulas pentingnya etika diskursus siber dalam meredam gelombang polarisasi digital. Kehadiran literatur ini memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sipil untuk membangun ruang deliberasi siber yang sehat.

Andi Ilham Paulangi menjelaskan esensi utama dari kehadiran karya ilmiahnya dalam halaman pengantar. “Analisis yang disajikan di sini dimaksudkan untuk memperkaya pemahaman publik tentang praktik demokrasi digital,” ungkapnya.

Penulis juga mengingatkan khalayak mengenai ancaman nyata dari sistem manipulasi yang bekerja di balik aplikasi. “Ia menunjukkan bagaimana solidaritas lahir dari linimasa, bagaimana generasi muda menjadikan ruang digital sebagai panggung politik utama,” tutur Andi Ilham Paulangi.

Sang penulis secara jujur mengakui, fenomena teknologi internet akan selalu berkembang melewati isi bukunya. Melalui catatan penutup, Ia menulis, “Namun, saya berharap keterbatasan ini justru menjadi undangan bagi pembaca untuk melanjutkan percakapan”.

Catatan Kritis Terhadap Pola Komunikasi Siber

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi RI), Meutya Hafid, memberikan sorotan tajam terhadap isi buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’. Ia memandang, esai kritis ini sebagai instrumen edukasi penting bagi generasi muda dalam menghadapi era siber.

Kementerian Komdigi RI pun menyambut baik peluncuran buku siber ini demi meningkatkan pemahaman kritis masyarakat luas di Indonesia. Mereka berkomitmen untuk memperkuat infrastruktur literasi digital guna melindungi hak-hak berekspresi seluruh warga siber.

Menkomdigi Meutya Hafid mengingatkan publik, sistem pendistribusian pesan di dunia maya tak bekerja secara independen atau netral. “Algoritma yang mengatur distribusi informasi dapat mempengaruhi bagaimana suatu isu berkembang, siapa yang memperoleh perhatian publik,” ujarnya.

Sementara itu, Nagara Institute melalui Adinda Nanda Saraswati, mengkritik keras fenomena pendangkalan diskursus politik nasional sekarang. Mereka melihat para politisi cenderung memanfaatkan ruang siber hanya untuk membangun citra visual yang sifatnya kosmetik.

Praktik kampanye digital dangkal tersebut berpotensi mengaburkan substansi permasalahan riil yang masyarakat bawah hadapi. Tim sukses partai politik (parpol) lebih memilih memproduksi konten hiburan daripada mengedukasi pemilih mengenai visi misi perjuangan partai.

Nagara Institute bahkan menilai, hilangnya integritas perjuangan parpol akan menjebak masyarakat ke dalam pola komunikasi pragmatis. “Ketika para elite politik meninggalkan konsistensi ideologis demi mengejar relevansi sesaat, mereka tidak hanya kehilangan kredibilitas,” papar Adinda Nanda Saraswati.

Analisis kritis dalam paruh pertama buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ memaksa publik untuk melihat realitas pahit di balik industri teknologi. Pengguna media sosial perlu memahami mekanisme perang atensi agar tidak sekadar menjadi objek eksploitasi data komersial.

Masyarakat sipil dapat memanfaatkan temuan riset dalam buku ini sebagai modal awal untuk merebut kembali kedaulatan digital. Karya ilmiah Andi Ilham Paulangi ini sangat direkomendasikan bagi para akademisi, mahasiswa, dan jurnalis yang peduli terhadap masa depan siber. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi