JAKARTA, AFU.ID — Saluran air di dekat Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Radjiman, Kota Bandung, disebut menampung sampah selama puluhan tahun sebelum akhirnya dibersihkan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggunakan kondisi tersebut untuk menyoroti kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurut Dedi, persoalan kebersihan tidak hanya berkaitan dengan kinerja pemerintah, tetapi juga perilaku warga.
Dedi mengatakan saluran tersebut menjadi tempat menumpuknya sampah karena tidak mendapat perhatian dalam waktu lama. Kondisinya semakin parah karena saluran air juga digunakan sebagai area berdagang oleh pedagang kaki lima. "Karena yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki," kata Dedi setelah memimpin upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (17/8/2026).
Dedi menyebut tumpukan sampah di saluran itu telah berlangsung sekitar 32 tahun. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebersihan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Ia menilai masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan menggunakan fasilitas publik sesuai fungsinya.
Saluran air yang dipakai untuk berdagang, kata dia, kemudian menjadi tempat sampah menumpuk selama bertahun-tahun. "32 tahun hitungan saya. Karena itu bertumpuk, bertumpuk, bertumpuk. Nah, Bandung ini kan terjadi karena itu. Saluran airnya digunakan untuk berdagang, sampahnya tidak diperhatikan, bertumpuk," ujar Dedi.
Menurut Dedi, persoalan tersebut menjadi contoh bahwa kemerdekaan juga harus dimaknai melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. Ia menilai setiap orang memiliki hak atas lingkungan yang baik sekaligus kewajiban untuk menjaganya. "Coba lihat sekarang. Nah, ini problem. Menurut saya hitung 32 tahun ada deh itu sampah di situ. Artinya ini harus dimerdekakan. Artinya setiap orang harus memiliki hak dan memiliki kewajiban," tutur Dedi.
Dedi juga menyoroti peran petugas kebersihan dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, petugas dapat bekerja lebih baik ketika mendapat arahan, pembinaan, dan penghargaan yang layak. Ia mencontohkan petugas penyapu yang tidak hanya dituntut membersihkan lingkungan, tetapi juga dapat dibentuk menjadi lebih disiplin melalui pembinaan.
"Kita contoh deh, misalnya tadi tukang sapu. Tukang sapu kalau diarahin, dimuliakan, juga hebat. Bukan hanya hebat nyapunya, barisnya juga hebat," kata Dedi. Dedi menilai persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara bersamaan. Kondisi saluran yang dipenuhi sampah selama puluhan tahun, menurut dia, menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan masyarakat menjadi bagian dari pekerjaan yang masih harus dilakukan. (FAD)