JAKARTA, AFU.ID - Studio itu tenang, tapi pembahasannya tidak. Di tengah gemuruh kabar serangan rudal dan dentuman intersepsi yang memantul di langit Timur Tengah, Akbar Faizal Uncensored menghadirkan satu diskusi yang mencoba menjernihkan kabut: ke mana arah perang ini, dan berapa lama Iran bisa bertahan?
“Benar kata Raidalio, tatanan dunia telah runtuh,” buka Akbar Faizal. Organisasi-organisasi global yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga keteraturan internasional, menurutnya, kian kehilangan daya cengkeram. Bahkan United Nations tak lagi terdengar lantang. Di sisi lain, Amerika Serikat kembali menunjukkan taringnya—kali ini melalui serangan yang diinisiasi bersama Israel terhadap Iran.
Di kursi seberang, Andi Widjajanto, mantan Gubernur Lemhannas dan eks Menteri Sekretaris Kabinet, mengurai dengan nada tenang. Ia menyebut pola operasi militer mutakhir Amerika—termasuk yang dikenal sebagai Operation Midnight Hammer—memperlihatkan kecenderungan baru: serangan presisi tanpa invasi darat, tanpa infanteri yang berlari di medan tempur seperti film-film perang klasik.
“Dalam teks konvensional militer, kemenangan ditentukan oleh okupasi darat,” jelas Andi. Namun kini definisi itu menjadi kabur. Fasilitas strategis bisa dihancurkan, target bisa dilumpuhkan, tetapi rezim tetap berdiri, angkatan darat tetap utuh, dan kemampuan militer bisa dibangun ulang. Kemenangan tak lagi hitam-putih.
Hari keempat perang memperlihatkan dominasi rudal dan sistem pertahanan udara. Iran, menurut estimasi, mungkin memiliki hingga 3.000 rudal. Namun efektivitasnya jauh lebih kecil ketika berhadapan dengan sistem intersepsi seperti Iron Dome dan variannya yang tersebar di Israel dan negara-negara Teluk. Ledakan di beberapa kota, kata Andi, lebih sering disebabkan oleh puing interseptor daripada hantaman langsung rudal.
Jika perang tetap berada pada level duel rudal, ia memprediksi kemampuan Iran akan terkikis dalam hitungan hari. Tetapi jika konflik bergeser ke invasi darat, persoalannya menjadi jauh lebih kompleks: siapa yang bersedia mengirim pasukan? Israel masih tersandera konflik di Gaza. Amerika Serikat di era kedua Donald Trump disebut cenderung mendorong sekutu regional memikul beban utama. Nama Arab Saudi pun mencuat, meski itu berisiko memantik eskalasi lebih luas.
Di titik itulah bayangan perang asimetrik muncul. Andi mengingatkan pengalaman panjang Vietnam, Afghanistan, hingga Irak: pasukan konvensional bisa unggul dalam teknologi dan daya hancur, tetapi gerilya tak perlu menang untuk dianggap menang—mereka hanya perlu bertahan. Konflik pun berubah menjadi perang berkepanjangan tanpa garis akhir yang jelas.
Kemungkinan perang ini melebar menjadi Perang Dunia III? Andi menyebut peluangnya masih kecil, sekitar 15–25 persen. Namun angka itu tetap menyisakan kegelisahan. Dunia sedang berada di fase transisi, ketika superioritas militer tak lagi otomatis menjamin stabilitas politik.
Di ujung diskusi, pertanyaan awal belum benar-benar menemukan jawaban pasti: berapa lama Iran bertahan? Jawabannya bergantung pada bentuk perang yang dipilih—apakah tetap dalam duel teknologi jarak jauh, atau berubah menjadi konflik darat yang menyeret kawasan ke pusaran panjang.
Yang jelas, seperti disimpulkan dalam perbincangan itu, wajah peperangan modern telah berubah. Tidak lagi derap sepatu lars di lumpur medan tempur, melainkan titik-titik cahaya di layar radar, ledakan di langit malam, dan keputusan-keputusan strategis yang diambil ribuan kilometer dari garis api. Dunia menonton, sambil menahan napas. (*)