JAKARTA - AFU.ID, Ledakan mengguncang Kompleks Perikanan, Kampung Yenures, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT menyisakan tanda tanya.
Ledakan yang diduga berasal dari bom atau mortir peninggalan Perang Dunia II itu menewaskan lima orang, menyebabkan tiga orang hilang, dan melukai puluhan warga lainnya.
Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan mengatakan, tim Gegana Brimob Polda Papua yang tiba di lokasi pada Senin (1/6/2026) menemukan satu granat aktif jenis nanas di tempat kejadian perkara (TKP).
Granat tersebut langsung dimusnahkan pada pukul 18.00 WIT. Pemeriksaan dan sterilisasi kawasan masih berlanjut karena tim Jibom baru tiba sore hari.
"Ada kemungkinan bom meledak karena digerogoti atau diusahakan warga untuk diambil besi bekasnya," ujar Ari.
Saksi Bisu Pertempuran Sengit PD II
Ledakan ini bukan kejadian pertama kali di Biak. Pulau ini menjadi salah satu medan pertempuran paling berdarah dalam Kampanye New Guinea selama Perang Dunia II.
Pada 27 Mei 1944, pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur mendarat di Biak untuk merebut pangkalan udara strategis Mokmer. Pasukan Jepang, yang berjumlah sekitar 11.000–12.000 orang, bertahan mati-matian di dalam gua-gua karang alami yang diperkuat.
Salah satu lokasi paling tragis adalah Gua Binsari, warga lokal menyebutnya Gua Jepang. Pada 7 Juni 1944, pasukan Sekutu menjatuhkan bom dan drum-drum bahan bakar ke gua tersebut.
Akibatnya, sekitar 3.000 prajurit Jepang tewas dan terkubur hidup-hidup di dalam gua yang memiliki panjang sekitar 180 meter dan kedalaman 45 meter. Hingga kini, gua tersebut masih menyimpan sisa-sisa mortir, peluru, senjata, dan tulang-belulang tentara Jepang.
Untuk mengenang peristiwa itu, dibangun Monumen Perang Dunia II di Pantai Parai yang berada di antara Mokmer dan Bosnik, sekitar tujuh kilometer dari Biak Kota.
Monumen yang diresmikan pada 1994 ini dirancang oleh arsitek Hiroshi Ogawa dan menjadi pengingat sejarah pertempuran sengit di wilayah tersebut.
Mengapa Masih Berbahaya Hingga Kini?
Delapan puluh tahun setelah perang usai, Biak masih menyimpan banyak Unexploded Ordnance (UXO) atau bahan peledak yang tidak meledak. Tanah, pantai, dan gua-gua di pulau ini penuh dengan peninggalan amunisi Jepang dan Sekutu.
Warga setempat kerap menemukan besi bekas perang untuk dijual atau dimanfaatkan. Namun, amunisi yang sudah tua dan tidak stabil ini sangat berbahaya. Getaran, panas, atau upaya memotongnya bisa memicu ledakan kapan saja.
Akibat ledakan Minggu kemarin, lima orang tewas yaitu Deflin Raubaba (41), Moris Raubaba (24), Karmila Ayorbaba (25), Israel Raubaba (7), dan Isril Raubaba (5). Sementara itu, tiga orang masih belum ditemukan.
Sebanyak 19 orang mengalami luka-luka akibat ledakan itu. Sembilan rumah mengalami rusak berat, dan memaksa 55 orang warga yang berada di dekat kejadian mengungsi.
Polda Papua meminta warga menjauhi TKP hingga tim Jibom menyatakan kawasan aman. Olah TKP forensik baru bisa dilakukan setelah sterilisasi selesai.
Tragedi ini kembali mengingatkan bahwa luka Perang Dunia II di Papua belum sepenuhnya hilang. Meski monumen telah berdiri dan gua-gua menjadi situs wisata sejarah, ancaman bom-bom tua masih mengintai kehidupan sehari-hari warga.
Pembersihan menyeluruh UXO oleh pemerintah pusat dan kerjasama internasional (terutama dengan Jepang dan Amerika Serikat) menjadi kebutuhan mendesak agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Biak bukan hanya saksi bisu sejarah perang, tetapi juga pengingat bahwa dampak perang bisa bertahan hingga generasi berikutnya. (EER)