JAKARTA, AFU.ID — Para pemimpin negara Kelompok Tujuh (G7) memulai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Prancis, pada Senin (15/6/2026), dengan fokus awal membahas peluang meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan selama tiga hari itu juga membahas upaya mencegah meluasnya konflik yang dapat mengganggu stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Para pemimpin G7 menilai kesepakatan sementara yang dicapai AS dan Iran dapat menjadi langkah penting untuk menurunkan eskalasi konflik. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, yang untuk pertama kalinya menghadiri KTT G7 sejak menjabat pada Oktober 2025, menyambut positif kesepakatan tersebut. Ia menilai langkah itu dapat membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Takaichi juga menekankan pentingnya penyelesaian akhir yang mampu menjamin implementasi kesepakatan, menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, serta mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Di sela-sela pertemuan, Takaichi mengusulkan pembentukan kemitraan cadangan strategis bersama untuk memperkuat ketahanan rantai pasok mineral kritis.
Usulan itu muncul di tengah kekhawatiran negara-negara maju terhadap tingginya ketergantungan pasokan mineral penting dari China. Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, mineral seperti unsur tanah jarang memiliki peran penting bagi industri teknologi tinggi. Karena itu, penguatan rantai pasok dinilai menjadi bagian penting dari keamanan ekonomi negara-negara G7.
Kesepakatan antara AS dan Iran sendiri diumumkan Presiden Donald Trump pada Minggu (14/6). Kedua negara dijadwalkan menandatangani perjanjian resmi di Jenewa pada Jumat (19/6) sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik yang berlangsung sejak serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
KTT kali ini menjadi pertemuan tatap muka pertama para pemimpin G7 sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Presiden Prancis Emmanuel Macron selaku tuan rumah menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis dunia menjadi salah satu topik utama pembahasan.
Selain Timur Tengah, para pemimpin juga membahas perang Rusia-Ukraina, keamanan ekonomi, hingga tantangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Namun, perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa masih menjadi tantangan dalam membangun kesepakatan bersama.
Perbedaan itu terlihat dalam sikap terhadap Iran dan Ukraina. Negara-negara Eropa mendorong dukungan kuat kepada Kyiv, sementara Trump mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap konflik tersebut. Untuk menghindari sorotan atas perbedaan pandangan itu, para pemimpin G7 diperkirakan tidak akan menerbitkan komunike bersama pada akhir KTT. Jika benar terjadi, ini akan menjadi kali kedua secara beruntun pertemuan G7 berakhir tanpa deklarasi bersama.
Sebagai gantinya, para pemimpin berencana mengeluarkan pernyataan terpisah mengenai sejumlah isu yang lebih mudah mencapai konsensus, termasuk rantai pasok mineral kritis dan ketidakseimbangan ekonomi global. Prancis juga mengundang sejumlah negara nonanggota G7 seperti Brasil, Mesir, India, Kenya, dan Korea Selatan untuk mengikuti beberapa sesi pertemuan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas kerja sama dengan negara berkembang dan mitra strategis.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bergabung dalam pembahasan terkait perang dengan Rusia serta upaya diplomatik menuju perdamaian. Sementara itu, para pemimpin Timur Tengah akan terlibat dalam diskusi mengenai keamanan regional, termasuk situasi di Selat Hormuz. KTT juga menghadirkan para pemimpin industri kecerdasan buatan (AI), termasuk dari Anthropic dan OpenAI, untuk membahas pengembangan teknologi AI, penerapan praktis, serta perlindungan anak di ruang digital.
Menjelang pelaksanaan KTT, puluhan ribu demonstran menggelar aksi unjuk rasa di Jenewa. Meski sebagian besar berlangsung damai, sejumlah kelompok terlibat bentrokan dengan aparat hingga memicu penggunaan gas air mata oleh polisi. Untuk mengamankan pertemuan tingkat tinggi tersebut, Prancis dan Swiss mengerahkan sekitar 4.000 personel militer. Pengamanan diperketat mengingat G7 selama ini kerap menjadi sasaran protes kelompok anti-globalisasi dan anti-kapitalisme. (ANT/RAI)