Jakarta, AFU.ID — Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance membeberkan sebuah rahasia ke publik soal perang AS dengan Iran. Dia menyebut, ada pejabat di pemerintah Israel yang terus berupaya agar perang Iran dengan Amerika terus berlanjut. Upaya itu dilakukan dengan memberi opini publik yang keliru kepada warga AS.
Bocoran itu disampaikan JD Vance dalam wawancara dengan Joe Rogan, Rabu (15/7/2026). Meski begitu, Vance mengakui masih ada pejabat di pemerintahan Israel yang baik dan bisa dipercaya. "Ada kampanye yang sangat terselubung dan didanai dengan sangat baik untuk menggagalkan proses negosiasi dan kesepakatan," kata Vance dalam podcast tersebut.
JD vance mengaku dirinya punya "bukti yang jelas" bahwa sejumlah pemimpin Israel menolak kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut. Menanggapi komentar Vance, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Kamis mengatakan Presiden Donald Trump meyakini bahwa negara-negara asing memang berupaya memengaruhi opini publik Amerika. "Saya pikir presiden tentu akan sepakat bahwa negara-negara asing memang mencoba memengaruhi opini publik Amerika," ujar Leavitt.
Dalam wawancara itu, Vance juga menilai sejumlah pihak di pemerintahan Israel berupaya mengalihkan kebijakan AS dari jalur diplomasi dengan Iran. Meski demikian, ia menegaskan tidak mempermasalahkan kritik dari "elemen tertentu" di pemerintahan Israel terhadap posisi Washington. Menurutnya, upaya pemerintah asing memengaruhi kebijakan negara lain merupakan hal yang lazim. "Yang mengganggu saya adalah ketika para pemimpin Amerika membiarkan pengaruh itu memengaruhi penilaian dan sikap yang mereka ambil," kata Vance.
Pernyataan tersebut menjadi kritik terbaru Vance terhadap Israel di tengah upaya pemerintahan Trump mengakhiri konflik dengan Iran melalui jalur diplomasi maupun operasi militer. Pada Juni lalu, Vance juga sempat meminta para pemimpin politik Israel agar tidak menyerang "satu-satunya sekutu kuat" yang masih mereka miliki, setelah muncul kritik dari sejumlah pejabat Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Amerika Serikat dan Iran pada bulan lalu mencapai nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MOU) yang membuka jalan bagi kelanjutan perundingan resmi. Kesepakatan itu semula mencakup gencatan senjata selama 60 hari yang kini telah ditinggalkan, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, ketegangan kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Amerika Serikat mengintensifkan serangan terhadap Iran, sementara Teheran melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan.
Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Rabu menolak usulan untuk memangkas bantuan miliaran dolar kepada Israel. Usulan tersebut gagal setelah ditolak dengan perolehan suara 314 berbanding 104, meski sejumlah anggota Partai Demokrat mendukung penghentian bantuan tersebut, mencerminkan adanya pergeseran sikap sebagian anggota partai terhadap dukungan kepada Israel. (EER)