AFU.id

AS Ajukan Dana Rp1.094 Triliun untuk Lanjutkan Perang Iran, Pentagon Justru Dikritik Soal Transparansi

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Pemerintah Amerika Serikat mengajukan tambahan anggaran pertahanan sebesar US$88 miliar (sekitar Rp1.434 triliun) untuk melanjutkan operasi militer di Iran, dengan US$67,1 miliar (Rp1.094 triliun) dialokasikan khusus untuk perang tersebut, yang telah menghabiskan dana sekitar US$37,5 miliar (Rp611 triliun) hingga saat ini. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengklaim dana ini diperlukan untuk menjaga kesiapan tempur dan mendukung produksi industri pertahanan, meskipun rencana ini menuai kritik dari anggota Senat, terutama dari Partai Demokrat, yang mempertanyakan hasil nyata dari konflik yang berisiko menjadi "perang tanpa akhir." Selain itu, anggota parlemen juga menyoroti kurangnya transparansi dari Pentagon terkait pengeluaran dan persediaan amunisi dalam konflik ini.

AS Ajukan Dana Rp1.094 Triliun untuk Lanjutkan Perang Iran, Pentagon Justru Dikritik Soal Transparansi
Menteri Perang AS Pete Hegseth meminta tambahan dana perang melawan Iran. (FOTO AFUID)

Kritik Anggota Senat: Minta Hasil Konkret

Anggaran fantastis perang melawan Iran itu menuai kritik pedas dari anggota Senat AS, terutama dari Partai Demokrat, sebagai partai oposisi. Wakil Ketua Komite Alokasi Anggaran Senat Patty Murray mempertanyakan hasil nyata yang telah dicapai pemerintah setelah menggelontorkan ratusan triliun rupiah untuk perang tersebut. Menurut Murray, alasan pemerintah melanjutkan operasi militer terus berubah. Awalnya perang disebut bertujuan mencegah ancaman yang dinilai belum terbukti, kemudian bergeser menjadi upaya mengganti rezim Iran, menghancurkan program nuklir dan angkatan laut Iran, hingga kini diklaim demi membuka kembali Selat Hormuz. "Setiap beberapa hari kami mendengar alasan yang berbeda mengenai perang ini," ujar Murray. Ia juga menilai konflik berisiko berubah menjadi "perang tanpa akhir" seperti yang pernah dialami Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak.

Hegseth membantah anggapan tersebut. Ia menegaskan tambahan anggaran bukan merupakan tanda kegagalan, melainkan bagian dari strategi pencegahan agar musuh tidak berani menyerang Amerika Serikat. "Cara terbaik menciptakan perdamaian adalah mempersiapkan perang dan mencegahnya," kata Hegseth. Meski demikian, sejumlah senator dari Partai Republik juga mulai mempertanyakan strategi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Ketua Komite Alokasi Anggaran Senat Susan Collins menanyakan dampaknya jika tambahan anggaran itu ditolak. Menurut Hegseth, Pentagon terpaksa harus memangkas jumlah latihan militer dan program kesiapan tempur. Sidang juga menyoroti kondisi Selat Hormuz. Senator John Kennedy meminta penjelasan apakah Iran akan mengenakan tarif terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di jalur strategis tersebut. Namun Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengaku belum dapat memberikan kepastian. "Itu masih bersifat hipotetis dan saya tidak mengetahui jawabannya," kata Caine.

Jawaban tersebut langsung menuai respons Kennedy yang meminta pemerintah memberikan penjelasan lebih tegas mengenai perkembangan perang. Di sisi lain, DPR AS juga mulai mempertanyakan transparansi Pentagon terkait biaya konflik. Sejumlah anggota parlemen menilai Departemen Pertahanan belum menyerahkan rincian lengkap mengenai pengeluaran perang maupun jumlah amunisi presisi yang masih tersisa setelah ribuan unit digunakan dalam operasi terhadap Iran. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi