Kritik Anggota Senat: Minta Hasil Konkret
Anggaran fantastis perang melawan Iran itu menuai kritik pedas dari anggota Senat AS, terutama dari Partai Demokrat, sebagai partai oposisi. Wakil Ketua Komite Alokasi Anggaran Senat Patty Murray mempertanyakan hasil nyata yang telah dicapai pemerintah setelah menggelontorkan ratusan triliun rupiah untuk perang tersebut. Menurut Murray, alasan pemerintah melanjutkan operasi militer terus berubah. Awalnya perang disebut bertujuan mencegah ancaman yang dinilai belum terbukti, kemudian bergeser menjadi upaya mengganti rezim Iran, menghancurkan program nuklir dan angkatan laut Iran, hingga kini diklaim demi membuka kembali Selat Hormuz. "Setiap beberapa hari kami mendengar alasan yang berbeda mengenai perang ini," ujar Murray. Ia juga menilai konflik berisiko berubah menjadi "perang tanpa akhir" seperti yang pernah dialami Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak.
Baca Juga
Hegseth membantah anggapan tersebut. Ia menegaskan tambahan anggaran bukan merupakan tanda kegagalan, melainkan bagian dari strategi pencegahan agar musuh tidak berani menyerang Amerika Serikat. "Cara terbaik menciptakan perdamaian adalah mempersiapkan perang dan mencegahnya," kata Hegseth. Meski demikian, sejumlah senator dari Partai Republik juga mulai mempertanyakan strategi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ketua Komite Alokasi Anggaran Senat Susan Collins menanyakan dampaknya jika tambahan anggaran itu ditolak. Menurut Hegseth, Pentagon terpaksa harus memangkas jumlah latihan militer dan program kesiapan tempur. Sidang juga menyoroti kondisi Selat Hormuz. Senator John Kennedy meminta penjelasan apakah Iran akan mengenakan tarif terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di jalur strategis tersebut. Namun Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengaku belum dapat memberikan kepastian. "Itu masih bersifat hipotetis dan saya tidak mengetahui jawabannya," kata Caine.
Jawaban tersebut langsung menuai respons Kennedy yang meminta pemerintah memberikan penjelasan lebih tegas mengenai perkembangan perang. Di sisi lain, DPR AS juga mulai mempertanyakan transparansi Pentagon terkait biaya konflik. Sejumlah anggota parlemen menilai Departemen Pertahanan belum menyerahkan rincian lengkap mengenai pengeluaran perang maupun jumlah amunisi presisi yang masih tersisa setelah ribuan unit digunakan dalam operasi terhadap Iran. (EER)































