JAKARTA, AFU.ID — Iran meminta Qatar segera membebaskan tiga pilot tempur Iran yang disebut ditangkap setelah pesawat tempur Su-24 mereka jatuh di wilayah Qatar pada Maret 2026. Teheran menyatakan ketiga pilot tersebut telah ditahan selama sekitar enam bulan tanpa akses untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun pejabat Iran.
Permintaan tersebut disampaikan Iran setelah sebelumnya militer Iran mengumumkan hilangnya para pilot dalam insiden jatuhnya pesawat pada 2 Maret 2026. Teheran kini menyatakan tiga pilot tersebut selamat dari jatuhnya pesawat dan berada dalam tahanan Qatar. Iran meminta agar keberadaan serta kondisi mereka segera dipastikan dan ketiganya dibebaskan.
Militer Iran sebelumnya mengatakan pesawat Su-24 tersebut jatuh setelah ditembak ketika menjalankan misi "melawan pangkalan militer musuh" di Qatar. Pada saat itu, Iran menyatakan nasib para awak pesawat belum diketahui. Perkembangan terbaru mengenai tiga pilot tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa mereka berhasil menyelamatkan diri sebelum ditangkap oleh pihak Qatar.
Iran juga meminta Komite Internasional Palang Merah (ICRC) terlibat dalam persoalan tersebut. Teheran ingin lembaga kemanusiaan internasional itu memastikan kondisi ketiga pilot dan memperoleh akses kepada mereka. Iran menilai penahanan selama berbulan-bulan tanpa akses kepada keluarga atau pejabat Iran merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian internasional.
Kasus ini berkaitan dengan eskalasi perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang meluas hingga kawasan Teluk. Qatar menjadi salah satu lokasi strategis dalam konflik karena negara tersebut menjadi tuan rumah Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer Amerika Serikat yang merupakan salah satu pusat operasi Washington di Timur Tengah.
Pada 2 Maret 2026, Qatar menyatakan pertahanan udaranya berhasil menghadapi serangan Iran dan menembak jatuh dua pesawat tempur Su-24 yang memasuki wilayah udaranya. Pesawat tersebut disebut berkaitan dengan operasi Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Qatar.
Sementara itu, salah satu awak Su-24 yang terlibat dalam operasi tersebut telah dinyatakan meninggal dunia. Iran pada Juli 2026 mengonfirmasi melalui pemeriksaan DNA bahwa jenazah Brigadir Jenderal Majid Kazemi, salah satu pilot Su-24, telah ditemukan dan dinyatakan gugur. Adapun keberadaan tiga pilot lainnya sebelumnya masih menjadi tanda tanya.
Iran kini menyatakan ketiga pilot tersebut masih hidup dan berada dalam tahanan Qatar. Namun, pemerintah Qatar belum memberikan tanggapan publik mengenai tuduhan tersebut. Dengan demikian, informasi mengenai keberadaan dan kondisi ketiga pilot masih berasal dari pihak Iran dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Jika informasi tersebut benar, penahanan tiga pilot Iran selama berbulan-bulan dapat menjadi persoalan diplomatik baru antara Teheran dan Doha. Terlebih, Qatar selama ini memiliki hubungan diplomatik dengan Iran sekaligus menjadi salah satu mitra penting Amerika Serikat di kawasan.
Permintaan Iran untuk melibatkan ICRC menunjukkan bahwa Teheran berupaya membawa kasus tersebut ke jalur kemanusiaan dan hukum internasional. Fokus berikutnya adalah memastikan apakah ketiga pilot memang berada dalam tahanan Qatar, bagaimana kondisi mereka, serta apakah Doha akan memberikan akses kepada keluarga dan perwakilan Iran. (EER)