JAKARTA, AFU.ID - Amerika Serikat disebut memohon kepada Iran agar membuka kembali peluang negosiasi setelah gagal memaksa Teheran menyerah di tengah klaim blokade AS terhadap Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi klaim sepihak AS bahwa Washington menguasai jalur laut Hormuz. Sebaliknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah klaim tersebut dan menyebut bahwa AS tidak sedang menjadwalkan negosiasi dengan Iran.
Adu klaim kedua belah pihak terus terjadi dalam perang antara Iran dan AS. Masing-masing berupaya menunjukkan kekuatan dan mempertahankan posisi politiknya di tengah konflik yang semakin memanas. Araghchi menyebut AS telah gagal memaksa Iran untuk menyerah. Dengan kondisi tersebut, Washington dinilai harus kembali mengupayakan perundingan dengan mengikuti persyaratan yang diajukan Iran.
Sebelumnya, Trump juga mengeklaim bahwa kekuatan militer AS masih memberlakukan blokade terhadap Iran di Selat Hormuz. Trump bahkan menyatakan bahwa jalur strategis tersebut telah dibersihkan dari ranjau sehingga kapal-kapal dapat melintas tanpa ancaman dari ranjau laut.
Namun, klaim tersebut tidak serta-merta mengubah posisi Tehran. Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan kembali beroperasi secara normal sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan pemerintah Iran. Sikap ini menunjukkan bahwa Tehran masih menjadikan akses terhadap Selat Hormuz sebagai salah satu alat tawar utama dalam menghadapi tekanan Washington.
Posisi tersebut menjadikan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia, sebagai titik tekanan utama dalam konflik kedua negara. Perselisihan mengenai akses pelayaran di kawasan tersebut juga berpotensi memberikan dampak luas terhadap keamanan dan perdagangan energi global.
Ketegangan turut meningkat setelah Uni Emirat Arab menuduh Iran meluncurkan dua rudal balistik ke arah lalu lintas maritim. Kementerian Pertahanan UEA menyebut satu rudal jatuh di wilayah perairannya, sementara rudal lainnya jatuh ke laut di luar wilayah tersebut. Iran membantah tuduhan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan memperingatkan bahwa klaim semacam itu dapat merusak hubungan bertetangga serta mengikis kepercayaan di kawasan. (EER)