JAKARTA - AFU.ID, Ketegangan di Selat Hormuz semakin rumit setelah Iran dan Amerika Serikat saling mengklaim kendali atas jalur perairan strategis tersebut. Kedua pihak menyampaikan pernyataan berlawanan hanya dalam waktu yang berdekatan, menambah ketidakpastian di salah satu arteri utama pasokan minyak dunia.
Pada Sabtu (30/5), Markas Pusat Khatam al-Anbiya selaku komando militer utama Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki otoritas penuh atas pengelolaan Selat Hormuz.
Menurut pernyataan yang dilansir IRNA, semua kapal—termasuk kapal komersial dan tanker minyak—wajib mengikuti rute yang ditentukan Iran serta mendapatkan izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Iran juga mengancam akan merespons tegas setiap intervensi kapal militer asing.
Angkatan Laut IRGC bahkan mengklaim telah mengawal 20 kapal melintasi selat dalam 24 jam terakhir melalui koordinasi dengan otoritas maritim Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap bersikukuh mempertahankan blokade lautnya terhadap Iran di Selat Hormuz. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan, “Blokade itu masih tetap berlaku,” saat berbicara di sela Dialog Shangri-La di Singapura, Sabtu (30/5).
Pernyataan Hegseth ini bertentangan dengan sinyal Presiden Donald Trump sehari sebelumnya yang mengatakan blokade akan dicabut.
Trump sempat menulis di media sosial bahwa ia akan mengambil keputusan akhir dalam rapat di Situation Room Gedung Putih. Namun hingga kini, kebijakan blokade masih diberlakukan.
Latar Belakang Ketegangan
Situasi ini berakar dari eskalasi sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap target-target di Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Iran kemudian memperketat kendali atas Selat Hormuz dengan melarang kapal-kapal berafiliasi Israel dan AS melintas dengan aman.
Pada 8 April, kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan jelas.
Sejak itu, AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran terus menegaskan kedaulatannya atas selat tersebut.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menuduh Trump mengkhianati proses diplomasi dengan mempertahankan blokade dan mengajukan tuntutan berlebihan dalam perundingan.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, kini berada dalam kondisi simpang-siur. Iran mengklaim sebagai penguasa penuh dengan hak mengatur lalu lintas, sementara AS masih menerapkan blokade yang membatasi akses kapal ke dan dari pelabuhan Iran.
Situasi ini berpotensi memicu insiden tidak diinginkan di perairan yang sangat vital bagi stabilitas ekonomi global.
Atas ketegangan yang berkepanjangan ini, dunia internasional terpaksa menanggung dampak ekonominya. Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ketidakpastian pengelolaan dan ancaman blokade berpotensi mengganggu arus pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak, serta meningkatkan biaya logistik dan inflasi di banyak negara importir.
Meski belum terjadi gangguan fisik besar, situasi simpang-siur antara klaim Iran dan blokade AS ini sudah menciptakan kekhawatiran pasar energi global dan membebani perekonomian dunia. (EER)