JAKARTA, AFU.ID - Tumpahan minyak dari kapal tanker Caroline Bezengi yang kandas di perairan Oman telah mencemari sekitar 12 kilometer garis pantai di kawasan Ras Madrakah, Oman tengah. Otoritas Lingkungan Hidup Oman menyatakan lapisan minyak masih bergerak ke arah tenggara menuju laut lepas dan berpotensi mencapai wilayah lain, termasuk Pulau Masirah.
Pemerintah Oman kini melakukan pemantauan dan operasi penanganan untuk membatasi dampak pencemaran. Sementara itu, organisasi lingkungan Greenpeace memperkirakan skala tumpahan jauh lebih luas. Berdasarkan analisis citra satelit yang disampaikan kepada CNN, area yang terdampak tumpahan minyak diperkirakan telah mencapai sekitar 1.300 kilometer persegi atau 500 mil persegi. Namun, angka tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Oman. Otoritas Lingkungan Hidup Oman menyatakan hasil pemantauan terbaru tidak menunjukkan adanya jejak polusi signifikan di lokasi lain di luar kawasan yang telah teridentifikasi.
Caroline Bezengi merupakan kapal tanker yang mengalami kerusakan setelah sebuah insiden yang hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Menurut Abdullah Bin Ali Al Amri, Ketua Otoritas Lingkungan Hidup Oman, insiden tersebut terjadi pada 6 Juni di luar wilayah perairan teritorial Oman. Kapal kemudian kandas di sekitar Pulau Al-Qibliyyah, Kepulauan Al Hallaniyat, pada 21 Juni.
Sejumlah laporan keamanan maritim menyebut awak kapal sempat melaporkan adanya ledakan. Namun, pemerintah Oman belum memastikan apakah ledakan tersebut benar terjadi dan apa penyebabnya. Kapal tersebut diketahui sebelumnya meninggalkan Novorossiysk, Rusia, sebelum bergerak menuju kawasan dekat Yaman. Rute tersebut menjadi perhatian karena kapal melintasi wilayah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kawasan pelayaran paling berisiko di dunia akibat konflik dan serangan terhadap kapal komersial.
Kebocoran minyak dari kapal pertama kali terdeteksi pada pekan pertama Juli. Seiring waktu, minyak yang keluar dari kapal menyebar semakin luas di Kepulauan Al Hallaniyat. Pada 4 Agustus, Greenpeace memperkirakan area tumpahan telah mencapai sekitar 600 kilometer persegi. Analisis citra satelit menunjukkan luas tersebut meningkat sekitar empat kali lipat hanya dalam dua hari.
Caroline Bezengi dan Dugaan Shadow Fleet Rusia
Caroline Bezengi yang membawa sekitar 800.000 barel minyak, didugamerupakan bagian dari jaringan yang disebut shadow fleet milik Rusia. Istilah shadow fleet merujuk pada jaringan kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak atau komoditas lainnya di tengah pembatasan dan sanksi internasional. Kapal-kapal dalam jaringan tersebut kerap menggunakan struktur kepemilikan, registrasi, dan asuransi yang lebih sulit dilacak.
Greenpeace menilai keberadaan kapal-kapal semacam itu meningkatkan risiko lingkungan karena sebagian di antaranya beroperasi dengan standar keselamatan dan transparansi yang dipertanyakan. Dalam kecelakaan biasa, tanggung jawab kerusakan lingkungan dapat ditelusuri melalui pemilik kapal, negara bendera, dan perusahaan asuransi. Namun, ketika struktur kepemilikan dan asuransi kapal tidak jelas, proses meminta pertanggungjawaban dapat menjadi jauh lebih rumit.
Kondisi tersebut berpotensi membuat negara yang wilayahnya terdampak harus menanggung sebagian besar biaya penanganan dan pemulihan lingkungan. Tumpahan Caroline Bezengi terjadi ketika kawasan Laut Arab dan sekitarnya masih menghadapi tingginya risiko keamanan pelayaran akibat konflik regional.
Sebelumnya, Iran juga melaporkan adanya tumpahan minyak yang berdampak terhadap Pulau Qeshm di kawasan Teluk Persia. Penyebab insiden tersebut hingga kini juga belum diketahui secara pasti. Rangkaian insiden tersebut memperlihatkan bahwa risiko terhadap lingkungan laut tidak hanya berasal dari kecelakaan teknis, tetapi juga dapat meningkat akibat konflik, serangan terhadap kapal, serta meningkatnya penggunaan kapal yang sulit dilacak. (EER)