JAKARTA, AFU.ID – Amerika Serikat dan Iran memasuki masa negosiasi 60 hari setelah menandatangani memorandum interim yang mengatur penghentian operasi militer, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta pemulihan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Memorandum yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 itu memberi waktu maksimal 30 hari bagi Amerika Serikat untuk mengakhiri blokade laut terhadap Iran. Sebagai imbalannya, Iran diminta mengupayakan pelayaran komersial yang aman tanpa pungutan di Selat Hormuz selama 60 hari.
Kesepakatan tersebut belum menyelesaikan seluruh sengketa. Washington dan Teheran masih harus merundingkan kesepakatan final terkait pencabutan sanksi, pengelolaan Selat Hormuz, serta masa depan program nuklir Iran.
Dokumen memorandum menyatakan Iran kembali menegaskan tidak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir. Namun, mekanisme pengawasan terhadap bahan nuklir yang diperkaya, inspeksi fasilitas, dan langkah penanganan stok uranium masih menjadi bagian dari pembahasan lanjutan.
Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi menyatakan inspeksi ke Iran akan dilanjutkan setelah mekanisme teknis disepakati. Namun, pejabat Iran menyatakan akses terhadap fasilitas nuklir yang menjadi sasaran serangan masih bergantung pada kesepakatan final dan langkah pencabutan sanksi.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam memorandum tersebut. Jalur laut antara Teluk Persia dan Laut Oman itu sebelumnya terganggu akibat konflik dan blokade, sehingga menghambat pergerakan kapal dagang serta pengiriman energi dari kawasan Teluk.
Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy menyambut memorandum AS-Iran dan meminta seluruh pihak menjaga stabilitas kawasan Teluk. Menurut dia, keamanan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk merupakan bagian dari kepentingan keamanan Mesir.
“Keamanan nasional GCC merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keamanan nasional Mesir sendiri,” kata Elshemy di Jakarta, Rabu.
Elshemy mengatakan Mesir tetap menempatkan keamanan negara-negara Teluk sebagai prioritas, meski memahami pertimbangan strategis Iran. Ia juga menyebut Mesir terlibat dalam jalur komunikasi diplomatik bersama Qatar, Turki, Pakistan, Amerika Serikat, dan Iran.
Dalam 60 hari ke depan, keberhasilan perundingan akan ditentukan oleh pelaksanaan pencabutan blokade, pemulihan pelayaran di Selat Hormuz, penyelesaian isu nuklir, serta kesepakatan mengenai sanksi terhadap Iran. (RHU)