AFU.ID — Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Sabtu, 11 April 2026, berakhir tanpa kesepakatan. Meski sejumlah isu berhasil disepakati, perbedaan pandangan pada poin krusial menjadi penghambat utama.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengungkapkan bahwa kedua pihak hanya berselisih pada dua hingga tiga isu penting.
“Kami mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tapi berbeda pandangan pada dua atau tiga isu penting, sehingga pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan,” ujarnya.
Meski tidak dirinci secara spesifik, Baghaei menyebut pembahasan utama dalam perundingan mencakup yaitu, stabilitas Selat Hormuz, program nuklir Iran, ganti rugi konflik, pencabutan sanksi ekonomi, dan enyelesaian akhir konflik kawasan.
Perbedaan kepentingan dalam isu-isu tersebut diduga menjadi penyebab utama kebuntuan negosiasi.
Selain perbedaan substansi, suasana perundingan yang diliputi ketidakpercayaan juga menjadi faktor krusial. Baghaei menilai kedua pihak sejak awal tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk mencapai kesepakatan dalam waktu singkat.
“Pembicaraan ini berlangsung dalam suasana kecurigaan. Tidak ada yang berharap kesepakatan tercapai dalam semalam,” katanya.
Perundingan yang berlangsung selama 21 jam ini melibatkan delegasi tingkat tinggi dari kedua negara. Pihak AS dipimpin oleh JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf.
Iran menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi ke depan sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat, khususnya dalam menghindari pendekatan maksimalis dan mengakui hak-hak Iran.
Meski gagal mencapai kesepakatan kali ini, perundingan tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. (*)